Bennet Baru 3 Hari Terpilih Jadi PM, Israel Gempur Gaza Palestina

Kamis, 17 Juni 2021 09:42

Israel serang Gaza Palestina lagi pada Rabu dini hari (16/6/2021).

FAJAR.CO.ID — Baru tiga hari setelah pemilihan Perdana Menteri (PM) Israel, negara zionis ini langsung menggempur wilayah Gaza Palestina.

Diketahui, pemilihan PM Israel dilaksanakan pada Minggu, 13 Juni 2021. Dalam pemilihan itu, Benjamin Netanyahu yang sudah 12 tahun jadi PM Israel dikalahkan mantan asistennya, Naftali Bennett.

Bennett menang dengan perolehan suara 60-59 di Knesset. Kini, Bennett menjadi pemimpin baru Israel.

Tiga hari setelah terpilih, Israel langsung melancarkan serangan udara ke Gaza.

Tak hanya itu, pemukim Yahudi yang merupakan pendukung setia Bennett juga ikut menyerbu Masjid Al Aqsa di Yerussalem Timur.

Israel mengklaim serangan udara ke Gaza merupakan balasan terhadap serangan balon api pejuang Palestina ke Israel selatan.

Dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (16/6/2021), serangan udara dan balon api ini menandai gejolak besar pertama antara Israel dan Gaza sejak gencatan senjata pada 21 Mei.

Menurut sumber-sumber Palestina, Angkatan Udara Israel menargetkan setidaknya satu lokasi di timur kota Khan Younes, Gaza selatan.

Seorang jurnalis foto AFP di Khan Younes melihat ledakan-ledakan akibat serangan udara Israel tersebut.

Pasukan Pertahanan Israel mengatakan bahwa dalam merespons balon-balon api.

“Jet-jet tempur Israel menyerang kompleks militer milik organisasi Hamas,” katanya.

Profil Naftali Bennet

Israel memiliki Perdana Menteri baru menggantikan Benjamin Netanyahu. Nama PM baru itu adalah Naftali Bennett.

Bennet adalah mantan ajudan Netanyahu. Dia seorang politisi berusia 49 tahun dan memiliki orang tua Amerika.

Bennet adalah mantan pengusaha teknologi yang menghasilkan jutaan dolar AS sebelum beralih terlibat secara mendalam di politik sayap kanan dengan posisi politik nasionalis-agama.

Beberapa pengamat dan surat kabar di Israel telah melabelinya sebagai ‘ultra-nasionalis’ karena pandangannya.

Bennett merupakan pemimpin partai Yamina, berbincang kepada The Times of Israel Februari ini.

“Saya lebih sayap kanan daripada Bibi (Netanyahu), tetapi saya tidak menggunakan kebencian atau polarisasi sebagai alat untuk mempromosikan diri saya secara politik,” kata Bennet saat itu seperti laporan The Indian Express, Senin (14/6).

Bennett bekerja untuk Netanyahu sebagai pembantu senior antara tahun 2006 dan 2008. Namun, dia meninggalkan partai Likud Netanyahu, setelah hubungannya dengan Netanyahu memburuk.

Setelah memasuki dunia politik, Bennett bersekutu dengan partai nasional sayap kanan Yahudi, dan masuk Parlemen sebagai wakilnya pada tahun 2013.

Bennett dikenal sebagai pendukung kuat negara bangsa Yahudi. Ia bersikeras pada klaim sejarah dan agama Yahudi atas Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan, wilayah dekat perbatasan Israel-Syria yang diduduki Israel sejak perang 1967.

Bennet pernah menjadi kepala Dewan Yesha, sebuah kelompok politik yang mewakili pemukim Yahudi.

Bennett telah lama menjadi pendukung hak-hak pemukim Yahudi di Tepi Barat. Dia, bagaimanapun, tidak pernah menganjurkan klaim Israel di Gaza.

Bennett telah mengambil garis keras terhadap militan Palestina, dan telah mendukung hukuman mati bagi mereka.

Pada Mei tahun ini, Bennett menuduh Hamas melakukan pembunuhan warga sipil di Gaza, yang tewas dalam serangan udara Israel sebagai tanggapan atas tembakan roket Hamas dari Gaza.

The Times of Israel melaporkan Bennet seorang sayap kanan yang tegas dan bangga yang akan menentang kenegaraan Palestina selamanya.

Naiknya Bennett menjadi Perdana Menteri kemungkinan berarti kemunduran bagi Palestina yang berharap untuk negosiasi perdamaian dan berharap menjadi sebuah negara merdeka. (one/pojoksatu)

Bagikan berita ini:
7
10
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar