Pungli di Pelabuhan Tanjung Priok, Perusahaan Angkutan Kontainer Bisa Dipalak hingga Rp1 Juta per Hari

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Bisnis gelap pemalakan atau pungutan liar (pungli) di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara diperkirakan lahan basah. Perputaran uang di dalamnya cukup besar, bahkan perusahaan angkutan kontainer terbilang menyetorkan uang pengamanan cukup besar.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan, ada dua kelompok besar preman di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok. Kelompok yang pertama, kelompok yang beroperasi di dalam wilayah pelayanan pelabuhan,

“Mereka ada di wilayah pelabuhan maupun di luar wilayah pelabuhan yang kita kenal dengan nama depo atau tempat penimbunan sementara,” kata dia di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (17/6).

Kelompok ini terdiri dari 49 orang. Mereka biasa memungut uang di setiap pintu perlintasan. Para sopir truk ini setidaknya mengeluarkan uang mulai Rp 2-20 ribu.

Sedangkan kelompok kedua yakni yang melakukan pencegatan di luar wilayah pelabuhan. Dari kelompok ini ditangkap 24 orang. Mereka berdalih menarik uang untuk mengamankan para supir yang memasuki area pelabuhan.

“Sejatinya (pelaku) melakukan pemerasan kepada perusahaan angkutan kontainer dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok,” imbuhnya.

Tak nanggung-nanggung, para pelaku biasanya langsung meminta pembayaran per bulan, tidak harian. Per unit kendaraan dihargai Rp 50-100 ribu.

Para pelaku akan menandai kendaraan yang sudah membayar dengan stiker khusus. Kendaraan tersebut akan dibantu untuk proses bongkar muat barang di area pelabuhan.

“Anda bayangkan kalau satu perusahaan memiliki 10 truk kontainer, berarti dia harus menyetorkan uang Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta,” jelas Fadil.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan