Mayat Dibakar, Asmara Sesama Jenis Berujung Maut

Jumat, 18 Juni 2021 14:14

salah satu tersangka pembakaran mayat dan pembunuhan di Mallawa Kab Maros dihadirkan dalam Press Release di Mapolda Sul...

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR – Cemburu menyulut emosi dalam hubungan asmara sesama jenis Rian (20) dan Muhaemin Anwar alias Amin. Rian pun tewas di tangan kekasihnya dibantu beberapa rekannya. Sadisnya, mayat Rian dibakar di Tompoladang, Desa Padaelo,  Kecamatan Mallawa, Maros Jumat, 11 Juni lalu.

Delapan orang telah ditangkap dalam kasus kematian, Rian (20). Satu pelaku masih buron. Rian merupakan warga Gowa yang ditemukan terbakar di Tompoladang, Desa Padaelo,  Kecamatan Mallawa, Maros Jumat, 11 Juni.

Adapun terduga pelaku lainnya yaitu, Haerani inisial H (23 tahun), Andika Pratama inisial AP (19), Taufik Hidayat atau TH (22), Deni Adrian Sianipar atau DAS (19). Kemudian, tiga pelaku masih di bawah umur yaitu, AI (17), MAN (16), FS (16), sementara Dion masih buron.

Polisi mengungkap kasus kematian pria kelahiran Sungguminasa, 5 Juni 2001. Motif asmara menjadi latarnya. Awalnya, Amin mengajak Rian bertemu. Dia menghubungi via media sosial. Rian setuju asalkan Amin ke rumahnya meminta izin.

Amin mengajak AI menjemput Rian di rumahnya. Tak lupa mereka meminta izin kepada keluarga Rian di Pallantikang, Gowa pada Selasa malam, 8 Juni. Dalih ke Malino berwisata, malam itu.

Namun, bukan Malino yang dituju, tetapi sebuah hotel di Makassar. Mereka berboncengan tiga, Rian duduk posisi paling belakang. Dalam perjalanan, Amin merebut gawai Rian. Dia pun mengutak-atik isi percakapan korban di whatsapp dan facebook. Usai membaca percakapan di medsos, Amin cemburu.

Di situ, dia makin menyakinkan kecurigaan jika kekasih sesama jenisnya itu tak setia. Tiba di hotel, AI pamit kembali meninggalkan Amin dan Rian.

Keduanya lalu masuk hotel. Ternyata, di hotel sudah ada rekan mereka yang menunggu di sebuah kamar. Ada DAS dan Dion serta dua orang lelaki.

Hingga dini hari sekitar pukul 02.00 WITA, Rabu, 9 Juni, semua tertidur membiarkan Amin dan Rian melampiaskan hasrat seksual mereka.

Akan tetapi, lepas itu, sekitar pukul 05.00 WITA, Rian dituding mencuri gawai. “Korban dikeroyok. Dia dituduh oleh MA (mencuri HP),” beber Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam saat jumpa pers di Mapolda Sulsel, Kamis, 17 Juni.

Lepas dari hotel, korban dibawa pelaku ke rumah rekannya yang lain, Haerani (H) di Jalan Sungai Limboto Makassar. Di sinilah korban dianiaya hingga pagi, Kamis, 10 Juni, meninggal dunia.

Pelaku pun merencanakan untuk menghilangkan jejak. Amin cs  berencana membawa jasad korban ke Sulteng. Tetapi, masalah biaya dan jarak.

Pelaku memutuskan membuang jasad korban di Camba Maros, malam hari. Empat orang bertugas membuang jenazah itu yakni, Amin, Dion, DAS, dan FS.

Dengan modal mobil rental, pelaku membawa jasad korban ke Camba. Mereka juga singgah membeli dua botol bensin dan tiba di Kampung Tompo Ladang, Mallawa, Maros, dini hari. Pelaku lalu menurunkan jasad korban, kemudian membakarnya, hingga korban ditemukan, Jumat, 11 Juni pagi hari.

Bahkan, hari itu setelah pelaku kembali ke rumah Haerani dan sekitar pukul 11.30 WITA, pelaku DAS sempat mengecek kembali ke lokasi TKP pembuangan mayat.

Merdisyam menyebutkan, Haerani dinilai terlibat atas kematian Rian sebab memberikan fasilitas tempat kepada para pelaku MA, DAS, dan Dion sebelum jenazah dibawa atau dibuang di Mallawa, Maros.

Dia juga, dianggap telah membiarkan terjadi kekerasan fisik kepada korban yang dilakukan oleh pelaku MA di rumahnya. Bahkan membuang barang bukti berupa pakaian korban ke tempat sampah.

Bukan hanya itu, ia juga bahkan telah memberikan bantuan berupa uang untuk biaya rental mobil kepada para pelaku membuang jenazah korban ke Mallawa, Maros.

Dia juga mengawasi situasi di lingkungan rumahnya pada saat jenazah hendak dinaikkan di mobil rental. Tak berbeda jauh dengan tersangka lainnya. Mereka turut melakukan kekerasan fisik kepada korban saat berada di hotel.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol E. Zulpan menambahkan, korban meninggal akibat pendarahan di kepala, wajah dan badan. Itu setelah korban dianiaya di rumah Haerani karena korban hendak melarikan diri.

“Dia disekap. MA kembali memukul korban dengan tangan kosong dan ikat pinggang hingga meninggal dunia. Setelah korban meninggal dunia MA DAS, H, FS sepakat menghilangkan jejak korban di daerah Camba Maros dan membakar jasad korban,” tambahnya.

Adapun kedelapan tersangka dan seorang lagi yang masih dalam pengejaran akan dijerat Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 Jo Pasal 55 Pasal 56 dan Pasal 170 KUHP dengan ancaman pidana seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara. (sua/ham)

Bagikan berita ini:
6
1
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar