Novel Baswedan Sebut Upaya Pemberantasan Korupsi Sektor SDA Terganjal Sejak 2015

Minggu, 20 Juni 2021 21:05

Penyidik senior KPK Novel Baswedan (Miftahulhayat/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengungkapkan sejak 2014 lembaga antirasuah telah membuat kerangka kerja dalam upaya pemberantasan korupsi. Isu yang paling menarik terkait pemberantasan korupsi pada sektor sumber daya alama (SDA).

Menurut Novel, Indonesia yang kaya dengan potensi SDA dirampok oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, KPK sejak 2014 ingin memfokuskan pada area pemberantasan korupsi bidang SDA.

“Sektor sumber daya alam ini kita bisa lihat bahwa ketika kita masih sekolah kita selalu diberitahu bahwa Indonesia negara yang kaya katanya begitu, memang. Ternyata kekayaan yang terbesar adalah sektor sumber daya alam, sumber daya alam yang diambil atau dirampok dicuri oleh orang-orang yang punya kepentingan tertentu ini adalah bagian dari korupsi,” kata Novel dalam diskusi daring bersama public virtue institute, Minggu (20/6).

Menurut Novel pada 2014, KPK membangun gerakan nasional penyelamatan sumber daya alam. Bahkan pada sektor pencegahan korupsi, pemasukan terhadap negara melalui KPK besar pada fokus tersebut.

“Seingat saya di tahun 2014 BPK itu telah mengatakan bahwa dalam hasil pemeriksaannya, KPK berhasil menyelamatkan potensi kerugian keuangan negara sebesar Rp 280 triliun dengan sumber daya alam yang diambil dengan cara-cara yang tidak baik,” papar Novel.

Novel yang termasuk ke dalam 75 pegawai KPK tidak dilantik menjadi ASN ini mengungkapkan, terdapat kepentingan politik memanfaatkan untuk mencari uang dengan cara-cara yang kotor. Hal ini yang menyebabkan kerugian negara pada sektor SDA.

“Beberapa penelitian itu dikatakan oknum-oknum tertentu yang punya kepentingan politik atau politik hitam itu banyak memanfaatkan sumber daya alam untuk cari uang,” ungkap Novel.

Dia menyatakan kinerja KPK pada sektor SDA dinilai cukup membuahkan prestasi. Tetapi justru pada 2015 terjegal, atau tidak dilanjutkan lagi. Tetapi tidak ada penjelasan rinci, mengapa fokus pemberantasan korupsi pada sektor SDA dikesampingkan.

“Selama ini saya menduga 2014 ketika yang dilakukan KPK itu sudah begitu bagusnya itu kemudian justru mengganggu ya, terus menariknya adalah kalau 2014 sudah berjalan, 2015 tidak diteruskan. Saya nggak tahu kenapa? Karena tentunya penjelasannya seperti apa nggak paham, harusnya kalau itu suatu hal yang baik teruskan,” ujar Novel.

Novel tak memungkiri, kekayaan negara pada sektor SDA harus hilang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya kerja pemberantasan korupsi pada area SDA tidak terjegal.

“Berapa uang harus keluar dari sumber daya alam itu, kita melihatnya jangan hanya sekedar kekayaan negara yang hilang diambil orang, tapi pola mengambil dengan cara yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan, justru akibatnya kerusakan lingkungan yang luar biasa,” urai Novel.

Dia tak memungkiri, kerusakan lingkungan mengakibatkan banjir dan longsor. Hal ini tidak lain diakibatkan oleh masifnya praktik rasuah pada sektor SDA.

“Anda lihat bagaimana akibat banjir di Papua yang menimbulkan kerugian jiwa dan kerugian material yang sangat besar terjadi,” pungkas Novel. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
5
10
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar