Pengakuan Habib Rizieq Sangat Mengejutkan

Senin, 21 Juni 2021 15:50

Habib Rizieq Shihab. (int)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab blak-blakan mengungkapkan pernah ada pertemuan antara PA 212 dan GNPF Ulama dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memiliki kesepakatan baik, tetapi tidak terjadi.

Hal tersebut diungkapkan Habib Rizieq saat menjalani sidang lanjutan dengan agenda pembacaan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Awalnya, Habib Rizieq menilai, jaksa penuntut umum (JPU) terkesan merasa dihujat dalam nota pembelaan yang telah dibacakan sebelumnya. Sehingga, replik hanya sekadar pelampiasan uneg-uneg belaka.

“Bahwa replik JPU hanya berisi curhat yang penuh emosi dan kemarahan karena merasa dihujat, sehingga tidak lebih dari hanya sekadar pelampiasan uneg-uneg saja,” jelas Habib Rizieq, Kamis (17/6).

Suara lantang Habib Rizieq pun membuat suasana sidang senyap, menurutnya, replik yang dibacakan JPU lebih banyak mengarah pada penghinaan terhadap dia beserta kuasa hukum.

Tak hanya itu, Habib Rizieq menilai jika replik JPU berisi penghinaan terhadap saksi dan ahli.

“Bahwa Replik JPU banyak berisi penghinaan baik kepada Saya maupun penasihat hukum, bahkan terhadap saksi ahli yang tidak pernah menghina JPU sama sekali,” ungkap Habib Rizieq.

Selanjutnya, replik JPU juga dinilai tidak argumentatif dan ilmiah. Bahkan, Habib Rizieq menilai, replik tersebut hanyalah pengulangan dari tuntutan yang telah dibacakan sebelumnya.

“Bahwa replik JPU juga tidak argumentatif dan tidak ilmiah, serta sifatnya hanya mengulang-ulang apa yang sudah dituangkan dalam tuntutan,” jelas Habib Rizieq. Oleh sebab itu, Habib Rizieq menyatakan replik JPU sama sekali tidak berkualitas dan tidak bernilai.

“Replik tersebut masih saja mengulangi Manipulasi fakta Persidangan, sehingga penuh dengan kebohongan,” ungkap Habib Rizieq.”Bahwa replik JPU sama sekali tidak mampu menjawab pleidoi saya mau pun pleidoi Penasihat Hukum sebagaimana mestinya,” imbuhnya.

Selanjutnya, Habib Rizieq mengungkapkan pernah ada pertemuan antara PA 212 dan GNPF Ulama dengan Presiden Jokowi yang memiliki kesepakatan baik, tetapi tidak terjadi. Berikut pertemuan yang disebut Habib Rizieq Shihab dalam dupliknya:

A. Bahwa dialog antara saya (Habib Rizieq, red) dan kawan-kawan pemerintah Republik Indonesia sudah dibangun sebelum ada pertemuan saya dengan Bapak Budi Gunawan maupun Tito Karnavian di Saudi. Lalu berlanjut semakin baik setelah ada pertemuan tersebut.

B. Tanggal 25 Juli tahun 2017, saya selaku pembina GNPF Ulama ketika itu saya berada di kota Tarim negeri Yaman mengirim delegasi GNPF MUI yang dipimpin oleh ustaz Bahtiar Nasir ke Istana Negara di Jakarta bertemu Presiden Jokowi untuk dialog. GNPF MUI saat ini bernama GNPF Ulama dipimpin oleh Syekh Yusuf Martak.

C. Tanggal 22 April tahun 2018 saya yang juga pembina PA 212 persaudaraan alumni 212, saat itu saya berada di kota suci Makkah kembali mengirim delegasi PA 212 dipimpin oleh ustaz Slamet Maarif yang juga didampingi pimpinan GNPF Syekh Yusuf Martak ke Istana Bogor bertemu Presiden Jokowi juga untuk dialog.

D. Hasil dialog GNPF dan PA 212 dengan Presiden Jokowi sangat bagus namun lagi-lagi tidak terealisasi karena ada gerakan liar intelijen hitam yang tidak suka ada dialog rekonsiliasi antara ulama dan umara.

Dengan alasan-alasan tersebut, Habib Rizieq lantas menilai bahwa jaksa telah berburuk sangka kepadanya dengan menuding bahwa dirinya hanya mencari panggung ketika mengungkap dialog rekonsiliasi dengan Kepala BIN Budi Gunawan dan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Tito Karnavian.(genpi)

Bagikan berita ini:
5
2
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar