Wali Kota Surabaya Mengaku Sedih Disebut Diskriminasi kepada Warga Madura

Senin, 21 Juni 2021 18:50

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menemui demonstran warga Madura. (Rafika Yahya/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku sedih disebut melakukan diskriminasi kepada warga Madura. Hal itu diungkapkan di depan demonstran yang menuntut penyekatan dan tes swab di Jembatan Suramadu dihentikan, pada Senin (21/6).

Eri menemui massa aksi pada pukul 13.30, setelah massa berdiri di depan Balai Kota Surabaya sejak pukul 12.00. Eri terlebih dahulu menyapa mereka dengan membaca salawat. Kemudian bercerita tentang kesedihan hatinya.

”Iki atiku (ini hatiku) bingung dan sedih. Soalnya orang tua saya, kakek saya dari Bangkalan. Itu saudara saya. Ini yang bikin saya sedih kalau dibilang diskriminasi. Penyekatan dan swab itu bukan kebijakan wali kota. Saya hanya menjalankan perintah forkopimda,” kata Eri.

Dia menjelaskan, bersama Bupati Bangkalan sama-sama menjalankan tugas. Dia mengaku baru saja melakukan koordinasi dengan forkopimda terkait tuntutan demonstran.

”Saya jalankan. Kalau kami, keluar SIKM (Surat Izin Keluar Masuk) dari Madura dan Surabaya yang berlaku 7 hari, itu yang disampaikan kapolri dalam rapat forkopimda. Saya sampaikan terkait penghapusan swab antigen dan seterusnya,” tegas Eri.

Pengakuan Eri itu nyatanya tak mampu meredam emosi massa. Mereka masih mengamuk dan melontarkan kalimat merendahkan. Massa aksi tidak mempercayai apa yang dikatakan Eri.

”Saya dapat 2 surat. Dari Provinsi Jatim dan Bupati Bangkalan minta bantuan tenaga swab. Insya Allah sudah disampaikan provinsi dan gubernur. Swab kapan dan berapa hari ditiadakan atau enggak itu kebijakan provinsi,” ujar Eri.

Bagikan berita ini:
1
3
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar