Haedar Nashir: Jiwa Negarawan Bung Karno Melintasi Batas dan Zaman

Selasa, 22 Juni 2021 22:36

Soekarno

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam peringatan 51 tahun wafatnya Soekarno mengatakan bahwa Presiden pertama RI itu sampai saat ini selalu menjadi kenangan dan jejak sejarah penting bagi bangsa Indonesia.

Dikatakan, Bung Karno sebagaimana tokoh bangsa lain tentu sebagai manusia biasa punya kekurangan dan kelebihan, tetapi sebagai tokoh perjuangan bangsa, Bung Karno memiliki tempat khusus di hati rakyat Indonesia.

Dari kaca mata Haedar Nashir, terdapat lima pelajaran yang dapat dipetik dari jejak perjuangan Bung Karno. Pertama, Bung Karno telah memberi contoh dalam pengkhidmatan perjuangan dan pengorbanan yang tanpa pamrih untuk Indonesia, baik saat melawan penjajah maupun setelah Indonesia merdeka.

Kedua, Bung Karno merupakan sosok yang bersahaja dan mencintai rakyat kecil, sampai akhir khayatnya Bung Karno dikenang tidak berlimpah harta dan materi.

“Tetapi sejarah perjalanannya beliau sangat mencintai rakyat kecil dari lahir dan batin,” tutur Haedar, Selasa (22/6/2021).

Ketiga, dari Bung Karno kita belajar tentang sosok pemimpin yang cerdas berilmu, berwawasan dan bervisi kebangsaan yang melintas batas.

“Bung Karno sosok pembelajar yang haus akan ilmu, belajar pada siapa pun, termasuk kepada Cokro Aminoto, Kiyai Dahlan dan tokoh lain yang menjadi rujukan dari perjalanannya. Bung Karno juga sosok yang gemar membaca dan visi kebangsaanya melampaui pada zamannya,” bebernya.

Keempat, Bung Karno juga sosok yang mampu mengintegrasikan keagamaan, keislaman dan kebangsaan. Ketika piagam Jakarta kemudian kompromi, lalu lahir kesepakatan yang menjadi dasar konstitusi 18 Agustus 1945 tentang Pancasila dalam sila ketuhanan yang maha esa adalah bukti dari Bung Karno yang selalu mencari titik temu tentang agama, dan keislaman keindonesiaan.

“Dan waktu mengeluarkan dekrit 5 juli 1959 disebutkan piagam Jakarta adalah menjiwai UUD 1945, Bung Karno telah memberi teladan bahwa agama dan islam bukanlah lawan dari keindonesiaan dan kebangsaan tetapi satu senyawa untuk Indonesia,” ungkap Haedar.

Kelima, dari Bung Karno kita belajar tentang kenegarawanan. Jiwa negarawan Bung Karno melintas batas dan melampaui segalanya. Bapak proklamator itu mengutamakan dan mementingkan kebangsaan daripada kepentingan individu dan kelompoknya.

“Bung Karno berdialog dengan siapa jasa, dan tetap menjalin hubungan dengan mereka yang berpandangan politik yang bertentangan. Beliau menjadi sosok saat krisis yang mampu menempatkan kepentingan rakyat, kepentingan bangsa di atas segalanya,” ujar Haedar.

Bagi Haedar lima teladan ini disamping masih banyak teladan lain harus menjadi rujukan anak bangsa yang mengenang dan mencintai Bung Karno dan ingin meneruskan jejaknya.

“Bagaimana kita selalu berjuang tanpa pamrih, bersahaja tanpa memupuk materi, dan mencintai rakyat kecil lahir dan batin dengan perbuatan nyata, menjadi orang cerdas berilmu dan memliki visi yang luas, mengintegrasikan visi keislaman dan keindonesiaan serta tampil menjadi negarawan-negarawan untuk Indonesia yang kita cintai, banggakan dan dicita-citakan pendiri bangsa,” tutup Haedar. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
9
10
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar