Media Abal-abal Dapat Kucuran Anggaran Pemerintah, Sosiolog: Akan Jadi Alat Kediktatoran

Selasa, 22 Juni 2021 17:11

Ilustrasi

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Saat ini dunia dilanda tsunami informasi atau apa yang biasa disebut sebagai infobesity atau information overload. Semua orang sangat mudah mendapatkan informasi dari berbagai sumber baik yang kredibel maupun yang abal-abal.

Sosiolog Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Sawedi Muhammad menerangkan, menurut Rosentstiel dan Kovach (2007), jurnalisme dan media dapat dibedakan ke dalam empat tipe yaitu jurnalisme verifikasi, jurnalisme kejar tayang, jurnalisme propaganda dan jurnalisme kelompok kepentingan.

“Jurnalisme tradisional yang mengedepankan verifikasi informasi dan objektivitas pemberitaan semakin kehilangan tempat,” jelas Sawedi kepada fajar.co.id, mengutip dari Rosentstiel dan Kovach, Selasa (22/6/2021).

Jurnalisme yang menjamur hari ini tidak menjadikan kebenaran informasi sebagai kewajiban, tidak melakukan verifikasi ketat, praktisi media tidak menjaga independensinya, tidak memonitor relasi kuasa yang tidak berimbang, serta tidak menjadikan media sebagai forum publik untuk berdebat dan kompromi.

“Menjamurnya media yang begitu masif dan tak terkontrol akan melahirkan dua situasi ekstrem yang sangat mengkhawatirkan yakni rezim diktator digital dan polarisasi dan penguatan politik identitas yang radikal,” paparnya.

Olehnya itu, langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dengan hanya bekerja sama dengan media yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers patut dihargai.

Langkah ini membuktikan komitmen Pemprov Sulut untuk tidak menjadikan media sebagai kaki tangannya, tetapi menempatkan media pada porsinya yang tepat yaitu sebagai kontrol sosial. Langkah ini seharusnya diikuti oleh pemerintah daerah lainnya di Indonesia.

Bagikan berita ini:
5
3
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar