Ketika Wakil Rakyat Pesta Makan Minum di Atas Gizi Buruk Rakyat

  • Bagikan

Sekitar Rp20 miliar anggaran makan minum tersebut lewat penunjukan langsung. Cara dan proses penunjukan langsung tersebut tentu mengundang pertanyaan ("curiga").

Model ("modus") penunjukan langsung dengan memecah menjadi beberapa item, juga terjadi pada pemeliharaan gedung tempat tinggal rumah negara (menjadi 7 item), pemeliharaan gedung kantor tempat kerja menjadi 9 item. Semuanya lewat penunjukan (FAJAR, 23 Juni 2021).

Media Adalah Mitra

Sangat disayangkan jika DPRD, dimana para anggota dewan yang berhikmat untuk rakyat, menunjukkan gelagat ingin membungkam media sebagaimana judul headline (FAJAR, 23 Juni 2021). Seharusnya mereka berkolaborasi secara sinergis mengawal kepentingan rakyat dan bersikap kritis kepada pemerintah.

Menuduh berita media menggiring opini publik dengan berita menyesatkan, sebagaimana konten advertorial DPRD Kota Makassar, patut disesalkan, karena terkesan tendensius dengan bahasa yang bernuansa kemarahan.

Tradisi luhur dalam politik untuk siap dikritik dan berbeda, rupanya tidak teraktualisasi dengan baik dalam relasi media untuk rakyat di DPRD Kota Makassar. Memang, terasa memalukan ketika para anggota dewan yang terhormat dikritik, karena lebih memilih mengedepankan biaya makan dengan porsi besar, ketimbang biaya pemberdayaan rakyat yang terpuruk karena pandemi.

Saat ini, panjang antrean pengangguran kian bertambah akibat pandemi Covid-19. Persentase angka kemiskinanan kian meningkat. Rakyat kian menderita. Rakyat yang korban itu bingung dan tidak tahu bagaimana lagi cara mencari makan untuk hidup. Sementara para wakilnya juga "bingung memilih makanan apa yang cocok dan enak untuk ia makan selagi rapat". Uang yang miliaran untuk makan minum mereka itu, entah bagaimana caranya untuk menghabiskannya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan