BI: Ekonomi Sulsel 2021 Masih Berkutat di Fase Pemulihan

Sabtu, 26 Juni 2021 21:43

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel pada Triwulan I tahun 2021 masih mengalami kontraksi 0,21% (yoy), namun lebih baik dibandingkan TW IV 2020 yang terkontraksi 0,62 % (yoy).

Melanjutkan trend perbaikan tersebut, BI memprediksi ekonomi Sulsel pada Triwulan II 2021 dan secara keseluruhan tahun 2021 akan tumbuh positif meskipun tidak setinggi periode sebelum pandemi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Budi Hanoto menyebut, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tersebut ditopang oleh membaiknya kinerja lapangan usaha di sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta penyediaan akomodasi, makan dan minum.

“Kinerja investasi baik PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) maupun PMA (Penanaman Modal Asing) juga membaik seiring dengan membaiknya kredit investasi yang juga tercatat mengalami perbaikan walaupun masih terbatas,” ujarnya di Hotel Four Points Makassar, Sabtu (26/6/2021).

Sedangkan dari sisi permintaan, lanjut Budi Hanoto, peningkatan diprediksi terjadi pada Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah dan LNPRT, Indeks Keyakinan Konsumen, Indeks Penjualan Riil, dan penyaluran kredit konsumsi yang meningkat pada April 2021.

“Insentif PPNBM Kendaraan Bermotor, kebijakan DP Rumah 0%, dan masih berlanjutnya stimulus PEN diprakirakan menjadi pendorong konsumsi masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, untuk kinerja ekspor dan impor juga diprakirakan akan terus membaik dibandingkan TW I 2021, terlebih PT Vale juga melakukan penundaan terhadap maintenance mesinnya hingga akhir tahun 2021 sehingga ekspor nikel diprakirakan tidak terganggu.

“Ekspor non migas per april 2021 tumbuh 15,77% didorong oleh kenaikan ekspor ikan dan udang serta rumput laut. Total ekspor April 2021 secara nominal tercatat sebesar 144,3 juta USD, sedikit lebih tinggi daripada Maret 143 juta USD,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut dia, secara keseluruhan di tahun 2021, ekonomi Sulsel masih berada dalam fase pemulihan dan diprakirakan akan tumbuh dalam kisaran 3,5-4,5 % (yoy).

Ia menegaskan, yang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi Sulsel untuk tumbuh lebih tinggi adalah peningkatan kasus Covid-19 sebagai dampak mobilitas masyarakat sebelum dan sesudah Idul Adha.

Jika tidak tertangani dengan baik, situasi ini dapat menurunkan kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

“Untuk menjaga momentum pertumbuhan, kita perlu untuk selalu mengedepankan kepatuhan terhadap protokol Covid-19 untuk mencegah meningkatnya kembali kasus di Sulsel. Kemudian, mendorong kegiatan ekonomi yang dampaknya besar dan risiko penyebaran Covid-19 nya rendah, yaitu sektor pertanian, perkebunan dan perikanan,” tegasnya.

“Selanjutnya mendorong penyerapan anggaran belanja oleh pemerintah daerah. Lalu, mendorong peningkatan perdagangan berorientasi ekspor secara direct call terutama komoditas hasil bumi baru Sulsel seperti kepiting, kemiri, minyak cengkeh, lada, VCO, dan lain-lain, selain kakao dan rumput laut. Dan terakhir adalah mendorong investasi PMDN dan PMA di sektor unggulan Sulsel serta melakukan percepatan pengembangan proyek strategis di daerah,” pungkas Budi. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
2
3
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar