Menimpali Kesemenjanaan

Rabu, 30 Juni 2021 14:06

DALAM buku Jim McGuigan, “Cultural Populism”,dijelaskan sebuah keadaan budaya yang tengah mewabah saat ini. Keadaan yang kemudian dikenal dengan istilah budaya populer. McGuigan, mengartikan populisme “budaya (‘b’ kecil)” sebagai pengalaman dan praktik simbolik orang-orang biasa yang lebih penting dari “Budaya (‘B’ besar)”.

Oleh: S. Purwanda

Raymond Williams menyingkap empat unsur istilah “populer”. Pertama, banyak disukai orang. Kedua, merupakanjenis kerja rendahan. Ketiga, karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang. Dan, budaya yang memang diperuntukkan untuk dirinya sendiri. Keempat unsur istilah populer ini dapat ditemukandalam buku kumpulan esai pertama Ilham Mustamin, “Siasat Menikmati Kesemenjanaan”.

Dalam buku “Siasat Menikmati Kesemenjanaan”, Ilham banyak menggugat kondisi pemerintahan dan masyarakat Kota Parepare yang dijangkiti wabah budaya populer yang begitu lekat dengan kuantitas dan mengabaikan kualitas. Hal sama dengan yang dikeluhkan oleh Mario Vargas Llosa dalam esainya “Peradaban Tontonan”, di mana hasil dari kebudayaan bentuk tertentu yang dangkal muatannya dijustifikasi dengan alasan kemasyarakatan demi mencapai penikmat terbanyak.Namun, gugatan Ilham dalam bukunya, tak lepas dari bentuk kecintaannya terhadap kota kelahirannya─hal mana dapat dibuktikan dari dua pilihan kutipantentang ‘kota’ dari Orhan Pamuk dan Mario Cuomo pada bagian awal buku.

Gugatan pertama yang bertalian dengan unsur pertamadapat ditemukan dalam esai “Distansi Buku dan Parepare”. Ilham menggugat masyarakat Parepare yang “membebek” kepada hal-hal sensasional. Baginya, masyarakat Parepare tidak mampu (unable) atau tidak mau (unwilling) memikirkan gagasan baru; mereka miskin ide. Asal disukai banyak orang, itusi lagi laku!

Bagikan berita ini:
4
3
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar