Dinilai Boros Anggaran, Program Guru 3T Dinas Pendidikan Sulsel Disorot

Jumat, 2 Juli 2021 11:42

Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Prof Muhammad Jufri

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Program rekrutmen tenaga pendidik di remote area atau 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) dari Dinas Pendidikan Sulsel mendapat sorotan.

Pasalnya, program ini dinilai tidak sesuai peruntukannya dan hanya menghabiskan anggaran APBD provinsi.

Ketua Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI), Muhammad Ramli Rahim, mengatakan, ada beberapa hal yang menurutnya patut dipertanyakan dari program Disdik tersebut.

Pertama, ia mempertanyakan, alasan Disdik menyelenggarakan program itu. Karena menurutnya sudah ada pengangkatan PPPK dari pemerintah pusat.

“Formasi yang diminta pusat 1 juta. Kenapa pemerintah daerah tidak mengusulkan ke formasi itu, sementara itu dianggarkan di APBN. Jadi tidak perlu daerah punya beban penganggaran,” katanya, kepada Fajar.co.id, Jumat, (2/7/2021).

Kedua kata dia, tidak semua sekolah yang masuk dalam program betul-betul masuk dalam kategori 3T seperti SMA yang ada di Moncongloe, Bungoro dan Tondong Tallassa.

“Saya lihat kalau ini disebut sebagai guru garis depan, saya bertanya pada beberapa sekolah seperti SMA 14 Maros itukan di Moncongloe, apa yang tertinggal dengan Moncongloe. Kemudian di Bungoro dan Tondong Tallasa, kenapa bisa terpencil,” tutur

Lanjut, ia juga menyoroti bidang studi yang diprogramkan tidak begitu urgen. Selain itu, SMA lebih mendominasi, padahal kenyataanya menurut dia, SMK jauh lebih membutuhkan tenaga produktif.

“Mata pelajaran yang diajukan juga bukan mata pelajaran yang urgen seperti penjaskes dan seni budaya. Bukan mata pelajaran yang bebannya berat di siswa. Saya malah bertanya kenapa SMK tidak diprioritaskan. Di SMK itu guru keahlian kita sangat kurang. Guru produktif SMK itu sangat kurang. Makanya alumni SMK tidak laku,” ujarnya.

Bagikan berita ini:
1
10
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar