Kelaparan, Warga Makan Kulit Sepatu, Rayap, dan Abu Campur Asam

Jumat, 2 Juli 2021 10:14

Tempat perlindungan anak-anak di Ankilimarovahatsy, desa di ujung selatan tempat sebagian besar anak-anak kekurangan giz...

FAJAR.CO.ID, MADAGASKAR—Kekeringan yang melanda Madagaskar dalam empat tahun berturut-turut membuat kelaparan terjadi di negara kepulauan itu. Orang-orang di Madagaskar dilaporkan sampai harus memakan abu yang dicampur dengan asam jawa dan kulit sepatu.

The World Food Programme atau Program Pangan Dunia memperingatkan bulan lalu bahwa lebih dari 1,1 juta orang di sana dalam kondisi ‘food insecure’. Jumlah itu – yang mencakup sekitar 14.000 orang yang sudah menghadapi ‘kondisi bencana’ diperkirakan akan terus bertambah 2021 ini.

Laporan menyebutkan situasi di pulau Samudra Hindia itu saat ini adalah yang terburuk yang pernah terjadi. Penduduk setempat mengambil langkah-langkah yang semakin putus asa dalam upaya untuk mencegah kelaparan.

Lomba Hasoavana, salah satunya menjelaskan kepada Metro.co.uk, “Saya melihat orang-orang bersepeda sepanjang hari untuk membeli seikat pisang dan kemudian bersepeda sepanjang hari kembali lagi, hanya karena tidak ada makanan di kota tempat mereka tinggal.”

Tsina Endor yang juga berkantor di Fort Dauphin menjelaskan bahwa di banyak tempat semua orang harus makan abu dicampur asam. Paula Amour, yang bekerja di dekat Sainte Luce, menambahkan, “Ketika orang membuat sepatu dari kulit zebu, orang memakan potongan kulit yang tersisa – ketika tidak ada lagi makanan, itu dianggap sebagai kemewahan.”

Laporan lain mengatakan orang telah makan tanah liat, rayap dan berbagai zat yang tidak dapat dimakan lainnya. PBB secara eksplisit menghubungkan kekeringan – yang pada bulan Mei dikatakan sebagai yang terburuk dalam 40 tahun – dengan perubahan iklim.

The World Food Programme (WFP) mengatakan negara berpenduduk 26 juta orang itu tidak berkontribusi apa-apa terhadap krisis lingkungan tetapi harus membayar harga tertinggi. Direktur eksekutif David Beasley mengatakan situasinya cukup untuk membuat siapapun menangis. “Keluarga telah hidup dari buah kaktus merah mentah, daun liar dan belalang selama berbulan-bulan sekarang,” jelasnya.

Beratnya situasi juga memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka untuk mencari makanan, menurut WFP. Direktur organisasi regional di Afrika selatan, Lola Castro, menggambarkan tubuh ratusan orang dewasa dan anak-anak hanya menyisakan kulit dan tulang.

Dia mengatakan belum pernah melihat yang seburuk ini kecuali pada tahun 1998 di tempat yang sekarang disebut Sudan Selatan, setelah 28 tahun bekerja untuk WFP di empat benua.

Warga lokal lainnya, Sylvestre Mbola, mengatakan mereka mencoba bertahan hidup dengan bercocok tanam. Akan tetapi, banyak orang yang mencurinya dari ladang. “Kalau punya singkong, tidak aman,” tuturnya. (amr)

Bagikan berita ini:
2
5
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar