Bukan Ahli Kesehatan, Luhut Panjaitan Diminta Tahu Diri

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat telah memasuki hari kedua yang rencananya diterapkan hingga Selasa, 20 Juli 2021 mendatang.

Kebijakan diambil sebagai respon pemerintah dimana kasus penularan Covid-19 terus melesat khususnya di pulau Jawa dan Bali.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menyoroti empat hal mengenai pelaksanaan PPKM Darurat yang memasuki hari kedua.

Masalah pertama adalah mobilitas warga di pinggir kota tetap tinggi. Artinya, kebijakan yang dibuat tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi.

“Kalau interaksi antar warga masih tinggi, tujuan meminimalkan penyebaran Covid-19 belum terwujud,” cetus Jamiluddin, Minggu (4/7/2021).

Oleh karena itu, dia meminta Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali Luhut Binsar Panjaitan memastikan mobilitas dan interaksi warga dapat ditekan.

“Kalau ini tak dapat dilakukan, dikhawatirkan tujuan PPKM Darurat tidak akan terwujud,” ujarnya.

Kedua, dia melihat terlalu banyak pesan-pesan menakutkan atau ancaman terkait penanganan Covid-19.

Penulis buku Perang Bush Memburu Osama itu menjelaskan, pesan menakutkan dan ancaman ini juga disampaikan Luhut kepada kepala daerah dan penjual obat.

Selain itu rakyat juga disuguhi pesan yang menakutkan terkait bahaya varian baru Covid-19.

“Pesan-pesan ancaman dan menakutkan dalam berbagai penelitian dapat menimbulkan bumerang. Penerima pesan dapat menjadi imun sehingga mengabaikan pesan yang diterimanya,” ucap Jamiluddin.

  • Bagikan