Cegah Kegagalan Belajar Gelombang Kedua, JSDI Minta Sekolah Dihentikan Sementara

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI) meminta pemerintah menghentikan sementara Proses Belajar Mengajar (PBM) untuk mencegah kegagalan belajar atau learning loss gelombang kedua akibat Pandemi Covid-19.

Pasalnya, salah satu masalah serius di Indonesia diawal pandemi Covid-19 adalah adanya lebih dari 60% guru yang tidak mampu menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh yang berakibat pada buruknya kualitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Ketua Umum Pengurus Pusat JSDI, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan, hanya 5,7% guru yang memiliki kemampuan dan kreativitas yang baik untuk menyajikan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan tetap berkualitas. Sementara 33% diantaranya bisa menggunakan teknologi dalam PJJ dengan kualitas seadanya. Angka persentase ini butuh pemetaan ulang.

Ia meminta Kemendikbud-Ristek, Nadiem Makarim menghentikan sementara seluruh PBM, agar bisa mengirimkan para guru untuk dilatih materi pembelajaran yang menarik dan berkualitas secara digital. Ia menamai program tersebut seperti halnya guru masuk bengkel.

"Karena itu, seharusnya yang dilakukan Kemdikbud adalah menghentikan sementara seluruh proses belajar mengajar dan mengirimkan seluruh guru di Indonesia selama 2-3 bulan. Jika memang tak bisa satu semester masuk bengkel. Guru yang 5,7% itu ditugaskan untuk melatih guru yang 33% untuk selanjutnya kedua kelompok guru ini melatih guru yang 60% tersebut. Pemetaan awal harus dilakukan dan setiap guru dipastikan bisa memberikan pembelajaran menarik dan berkualitas secara digital dengan minimal 18 metode berbeda untuk 18 pertemuan," jelasnya.

Menurutnya, pembelajaran harus dihentikan sementara agar yang dilatih dan yang melatih bisa berkonsentrasi penuh menemukan metode mengajar yang paling efektif secara digital tanpa beban berhadapan dengan peserta didik.

"Dengan memasukkan guru ke bengkel, Insyaallah Indonesia akan menemukan caranya sendiri untuk menghadirkan PJJ yang berkualitas dan menyenangkan tanpa harus selalu mencari contoh dari negara lain. Pendidikan Indonesia harus bisa menjadi leader, bukan followers. Dari sini juga akan ditemukan, materi dan kurikulum yang betul-betul cocok dengan PJJ Indonesia," jelas Ramli.

Lebih lanjut kata dia, Nadiem Makarim secara gamblang mengakui kegagalan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Indonesia dan terus mendorong pembelajaran tatap muka.

Selain itu kata dia, Nadiem juga mengakui terjadinya learning loss diakhir tahun 2020 dan berharap Januari 2021 Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bisa kembali agar kondisi learning loss tidak terulang.

Namun melihat kondisi saat ini, Nadiem tampaknya tak bisa berharap banyak, Januari PTM jelas tak bisa dilaksanakan secara maksimal, bahkan sejumlah uji coba PTM dihentikan.

Terbaru, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi mengumumkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Pelaksanaan PPKM tersebut akan dilakukan di Jawa dan Bali yang akan berlangsung dua pekan merespons melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia.

Tantangan akan semakin parah karena serangan kedua Covid-19 ini mulai rentan bagi anak.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, sebanyak 15 persen dari 9.399 kasus positif hari ini adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Artinya, kemungkinan PTM kembali akan menemui kendala serius. Karena itu, sangat potensial Nadiem Makarim kembali menyatakan kegagalan belajar terjadi untuk kedua kalinya tanpa ada tindakan nyata mencegahnya. (selfi/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan