Kumpulkan Rp539 Juta untuk Gadis yang Nangis di Stadion, Malah Didoakan Mati Sekeluarga karena Covid

  • Bagikan
Foto diambil dari metro.co.uk

FAJAR.CO.ID, LONDON—Penggalangan dana untuk gadis Jerman yang menangis di stadion saat Der Panzer dikalahkan Inggris di babak 16 besar Piala Eropa 2020 terus berlanjut. Hingga hari ini, donasi yang terkumpul sudah mencapai £ 27.000 atau sekitar Rp539 juta.

Pria asal Wales, Joel Hughes memulai penggalangan dana di halaman JustGiving itu untuk menunjukkan bahwa tidak semua orang di Inggris memiliki tabiat buruk. Itu ia lakukan setelah fans cilik itu dibully di media sosial sejak kekalahan Jerman.

Hughes yang semula hanya menargetkan 500 poundsterling belum bisa menghubungi keluarga gadis itu. Tapi pria asal Newport tersebut, mengatakan dia sudah memiliki petunjuk dan berhubungan dengan sejumlah wartawan Jerman tentang masalah ini.

Sebelumnya, gadis kecil itu menjadi sorotan di Wembley setelah ia menangis. Rekaman video memperlihatkan gadis itu dihibur oleh ayahnya. Video dan gambar gadis itu kemudian menyebar di media sosial, dengan pengguna memanggilnya Nazi.

Satu orang menulis 'Cry you little Nazi', sementara yang lain berkata: “Saya minta maaf tapi saya menertawakan Gadis Jerman yang menangis. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya belas kasihan”.

Hughes sendiri juga telah menjadi korban pelecehan online karena aksinya mengumpulkan uang untuk anak korban cyberbullying itu. Dia membagikan satu pesan yang dia terima, yang mengatakan: “Dasar orang aneh, saya harap semua keluarga Anda terpapar Covid dan meninggal dengan kematian yang paling menyakitkan.”

Menjelaskan mengapa dia membuat halaman, Hughes menulis tweet, “Ini seharusnya tidak harus dikatakan tetapi kampanye ini BUKAN hanya tentang seorang gadis kecil yang menangis karena timnya kalah dalam pertandingan sepak bola. Ini tentang: menyerukan penyalahgunaan media sosial online yang keji.”

Ia mengatakan kepada BBC Wales bahwa dirinya sudah muak dengan xenophobia di Inggris, dan bahwa dia pikir negara itu telah berubah menjadi negara yang tidak toleran. Namun, ia memastikan kalau pelakunya hanya minoritas idiot . “Mereka merusak hubungan kami dengan teman dan mitra kami di Eropa," tegasnya dikutip dari Metro. (amr)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan