Semangkuk Rendang di Atas Meja

Minggu, 4 Juli 2021 11:03

ILUSTRASI CERPEN FAJAR

“Aku dengar Pak Samad lagi butuh orang untuk mengurus peternakan sapi miliknya. Kamu coba saja, Mas. Lumayan daripada nggak ada pemasukan sama sekali.” Mira menyadarkan Hamzah dari lamunan pedihnya. Tanpa menjawab omongan istrinya, Hamzah segera bangkit dan bergegas pergi.

“Betul, saya memang lagi cari orang untuk menjaga sapi-sapi itu. Tapi upahnya tidak banyak.”

“Sing penting cukup untuk beli daging dan baju anak-anak, Pak,” ujar Hamzah disertai tawa kecil.

“Ya sudah, mulai besok kamu bisa merawat sapi-sapi itu.”

Hamzah segera merasa beban di tubuhnya sedikit berkurang. Ada harapan yang kini menggantung dalam angannya. Sebelum ia beranjak dari beranda rumah lelaki tua itu, sekali lagi ia mencium punggung tangan Pak Samad sambil berucap terima kasih tiada henti.

Mendengar kabar bahagia itu, Mira segera memeluk tubuh Hamzah dengan erat. Dan malam itu Hamzah merasakan sentuhan yang berbeda dari istrinya. Meresap begitu dalam ke tubuhnya.

Bukan perkara sulit bagi Hamzah untuk mengurus sapi-sapi itu. Sejak kecil ia sudah biasa mengurus hewan ternak. Dengan telaten Hamzah merawat sapi milik Pak Samad. Hamzah memang lekaki penyabar dan ulet. Ia selalu total dalam bekerja. Itulah mengapa mandornya terdahulu sangat menyayangkan atas keputusan atasannya untuk memberhentikan Hamzah. Tapi, apa boleh buat. Nasib berkata lain.

Bagikan berita ini:
2
2
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar