Semangkuk Rendang di Atas Meja

Minggu, 4 Juli 2021 11:03

ILUSTRASI CERPEN FAJAR

“Wah, sapi-sapi itu begitu nurut sama kamu, Zah. Seperti sudah akrab!” sapa Pak Samad sore itu.

“Iya, Pak, alhamdulillah. Sapi-sapi ini baik dan penurut!” sahut Hamzah sambil tersenyum.

“Tolong kamu jaga baik-baik ya, Zah. Sapi asli Tuban ini peninggalan istri saya dan beberapa akan saya kurbankan saat Idul Adha.”

“Tentu saja, Pak. Saya akan merawatnya seperti anak sendiri.”

Pak Samad tersenyum mendengar ucapan Hamzah. Ada jeda yang cukup panjang di antara keduanya sebelum akhirnya pria tua itu kembali bersuara, “Saya pegang janji kamu, Zah. Besok akan saya beri upah pertama kamu!”

Seolah ada sebuah aliran listrik yang menyengat tubuh Hamzah. Tubuhnya tertegun cukup lama. Seketika itu wajah istri dan kedua anaknya muncul dalam ingatannya. Hamzah hanya bisa tersenyum sambil menikmati debaran dalam dadanya.

“Pak, lebaran haji sebentar lagi, kapan Lanang beli baju baru?” Lanang, anak sulungnya yang kini berusia tiga belas tahun, membuka percakapan malam itu sambil menatap wajah Hamzah dengan tajam.

Bagikan berita ini:
10
2
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar