Urgensi Vaksinasi dan Efektivitas Memutus Mata Rantai Covid-19

Minggu, 4 Juli 2021 19:10

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kecenderungan peningkatan jumlah kasus penularan Covid-19 dalam dua pekan ini harus benar-benar diwaspadai sebab masyarakat tidak lama lagi akan memasuki perayaan Idul Adha.

Secara statistik, kurva pertumbuhan Covid-19 belum akan melandai, sebab kekebalan komunal (herd immunity) belum dicapai.

Guru Besar Fisika Teoretik FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Tasrief Surungan menganalogikan vaksinasi Covid-19 seperti kita sudah pakai rompi anti peluru. Dalam suasana perang, yang sudah pakai rompi anti peluru, maka relatif aman melintas di area perang.

“Namun, prosentase orang yang memakai rompi relatif rendah, kisarannya hanya 15 persen. Maka wajar saja kalau masih ada yang kena peluru, sebab signifikan jumlah orang berlalu lalang, terutama yang tidak pakai rompi,” jelasnya kepada fajar.co.id, Minggu (4/7/2021).

Kenyataannya, kata Prof Tasrief, ada sejumlah orang yang memakai rompi, namun tetap kena peluru dan luka. Itu karena kemungkinannya kena di bagian kepala, yang lainnya mungkin kena peluru dengan kaliber lebih besar (varian baru Covid-19).

Lalu, ternyata ada juga yang pakai rompi palsu, artinya, sudah vaksinasi, namun tubuhnya gagal membentuk antibodi. Atau memang memakai vaksin yang kurang mumpuni.

Lalu bagaimana sebaiknya? Prof Tasrief menjelaskan, sebaiknya vaksinasi tetap dijalankan dengan jenis vaksin yang lebih mumpuni (rompi anti peluru dengan standar SNI, misalnya), sehingga cakupan vaksinasi mencapai paling tidak 85 persen jumlah penduduk.

Bagikan berita ini:
3
9
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar