Mantan Menteri Penerangan Berpulang, Harmoko Lekat dengan Ucapan ”Atas Petunjuk Bapak Presiden…”

  • Bagikan

Selepas 1998, pria kelahiran 7 Februari 1939 itu bisa dibilang menghilang dari percaturan politik nasional. Tak tampak pula karya tulis mantan ketua Persatuan Wartawan Indonesia tersebut menghiasi media mana pun.

Harmoko memulai karier sebagai wartawan dan kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka selepas sekolah menengah tingkat atas pada awal 1960-an. Dia kemudian berpindah ke Harian Angkatan Bersenjata, selanjutnya di Harian API. Dia juga tercatat pernah menjadi pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko.

Pada 1970, bersama sejumlah rekan, dia mendirikan Pos Kota. Koran dengan muatan utama berita kriminalitas itu sempat menjadi salah satu koran dengan tiras tertinggi di Indonesia.

Ketua MPR Bambang Soesatyo membenarkan, sebelum meninggal, Harmoko memang sakit sejak beberapa tahun lalu. Namun, semangat hidupnya luar biasa. Dia masih rajin hadir di acara-acara besar Partai Golkar walaupun harus duduk di kursi roda.

Menurut wakil ketua umum DPP Partai Golkar itu, Harmoko adalah politikus senior, guru, sekaligus panutan banyak kader Partai Golkar. Banyak jabatan penting yang pernah dipegangnya semasa Orde Baru. ”Perjalanan hidupnya luar biasa,” terangnya.

Di era Harmoko, kata Bamsoet, harga-harga kebutuhan pokok rakyat terkendali karena selalu diumumkan. Bahkan, Harmoko hampir setiap hari muncul di televisi mengumumkan harga-harga kebutuhan pokok rakyat seperti cabai keriting, beras, dan minyak untuk mencegah para spekulan bermain. ”Jujur, kami semua merasa kehilangan,” tutur Bamsoet.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan