Menunggu Taka

Minggu, 11 Juli 2021 12:02

Ilustrasi Cerpen FAJAR

Oleh: Madia S. Nura

“Aku akan menceritakan sebuah rahasia. Tapi kau harus berjanji untuk tidak memberitahu ini pada orang lain. Setuju?” tanya Taka dengan wajah sangat serius.

Taka menunjukkan dua kaleng susu ukuran kecil. Dia melempar salah satu kaleng itu ke  kamarku. Dia memegang kaleng yang satunya lagi di seberang sana. Kaleng kami terhubung dengan seutas benang yang sangat panjang. Rumah panggung kami bersebelahan dengan jendela kamar yang berhadapan. Aku melihat Taka merapatkan mulutnya ke dalam kaleng. Aku meletakkan kalengku di telinga, berusaha mendengar kiriman suaranya. Kami pun memulai percakapan rahasia melalui telepon kaleng.

“Tadi siang, ada yang datang ke sekolah. Heboh sekali!” kata Taka bicara sambil berbisik, tapi aku bisa mendengar dia mengatur napasnya yang terlalu bersemangat.

Sejak kecil, aku kenal Taka. Kalau dia menceritakan sesuatu dengan napas terengah-engah, artinya itu kisah sangat luar biasa.

“Siapa?”

“Ada empat orang. Mereka datang dengan mobil warna biru.”

“Mobilnya muat? Sekolahmu kan dalam lorong sempit.”

“Iya! Hebat, kan? Ban mobilnya tepat di pinggir selokan!” dia tertawa.

Aku suka kalau Taka tertawa. Cempreng tapi menulari bahagia.

“Kau tahu, mobil itu penuh buku bagus!” Taka masih penuh tenaga bercerita.

“Oh, penjual buku,” kataku dalam hati.

Bagikan berita ini:
9
9
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar