Menunggu Taka

  • Bagikan

Aku melepaskan kaleng dari telingaku, menatap ke arah Taka di seberang jendela. Dia mengangguk mantap untuk menunjukkan dirinya serius.

“Satu lagi, dan aku yakin kau pasti tidak percaya. Ada pendongengnya! Jadi kita tidak hanya baca buku bagus dan gratis. Ada pendongeng!”

Aku tidak percaya. Mana mungkin? Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sejak jadi kecil hingga jadi guru sukarela di sekolah miskin yang berlokasi di wilayah pesisir.

“Pendongeng itu mengajak anak-anak menyanyi, menari, main tebak-tebakan, lalu menceritakan dongeng soal anak nelayan yang bersahabat dengan lumba-lumba! Anak-anak dibuat heboh tadi. Mereka mengejar mobil itu sampai ke ujung jalan. Aaah, kau tahu Uleng, aku senang sekali melihatnya.”

Meski hanya dari obrolan telepon kaleng, aku bisa membayangkan betapa seru kejadian yang Taka ceitakan.

“Dengar,Uleng.  Aku punya rencana. Supaya kau percaya dan melihat sendiri kalau aku tidak berdusta, kau akan kujemput kalau mereka datang lagi.”

“Janji?”

“Janji.”

***

Sudah setahun lebih sejak Taka menceritakan soal mobil perpustakaan dan pendongeng yang datang ke sekolah itu. Setiap pagi, aku membuka jendela kamar dan menarik-narik benang panjang yang menghubungkan kamar kami. Aku bisa mendengar suara kelentang kaleng di sisi kamarnya. Telepon kalengnya masih ada di sana. Sayang, jendela kamar Taka tidak pernah lagi terbuka.

“Kak Uleng!

Aku mencari-cari asal suara.

“Kak Uleng, di bawah!”

Aku menunduk mencari asal suara itu. Ada Taju dan Tika. Mereka adik-adik Taka. Mereka berdiri di antara tiang-tiang penyangga rumah. Baju mereka lusuh dan sendalnya berpasir. Tapi mereka lebih beruntung daripada aku. Setidaknya mereka masih punya kaki. Aku sudah lama tidak punya kaki. Kecelakaan di pasar pa’baeng-baeng mengambil kakiku, juga bapakku. Kejadian naas itu menjadikan aku gadis yatim tak berkaki.   

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan