Menunggu Taka

  • Bagikan

“Mana Kak Taka?” tanyaku pada mereka.

“Dia… mmm..anu,”  

Kulihat Taju melirik Tika. Tika meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya.

“Kak Taka bilang dia punya janji sama Kak Uleng,” kata Tika.

“Iya. Sudah satu tahun. Kalau dosanya bisa dihitung, pasti sudah sebesar gunung,” kataku bercanda.

“Kak ikut temannya jadi penggali kuburan di Macanda. Katanya dia sibuk dan harus kerja meski sudah malam. Banyak yang harus dikuburkan.”

Aku tahu soal itu dari menguping pembicaan amma’ku dan indo’na Taka.  Aku tidak tahu banyak soal pandemi karena tidak punya televisi di rumah. Aku tidak bisa mengintip dunia luar kecuali dari beberapa buku pemberian Taka. Tapi aku tahu bahwa pandemi membuat Taju dan Tika tidak boleh ke sekolah. Taka juga harus mencari pekerjaan lain untuk adik-adiknya karena dia tidak lagi bekerja sebagai penjaga kebersihan di sekolah. Setahun lebih kami menjalani hari-hari yang sepi. Aku kehilangan teman bercerita. Bagiku, Taka adalah jendela dunia. Dia bilang cita-citanya ingin kuliah dan jadi pustakawan, sama seperti nama pemberian orang tuanya: Pustakawan. Dia senang berada di perpustakaan, bekerja dengan buku-buku dan menjadikannya tempat belajar yang seru.

“Kak Uleng, lihat! Mobilnya datang!” seru anak-anak itu sambil berlari ke arah masjid depan rumahku. Aku mengayuh bangku kayu beroda yang dirakit Taka untukku. Benda itu membuatku mampu keliling rumah tanpa merepotkan siapa-siapa.

Dari atas paladang kulihat sebuah mobil biru berhenti. Seorang lelaki melompat keluar dan membuka semua pintu yang ada di mobil itu. Mobil itu terlihat memiliki dua sayap membetang kiri dan kanan, isinya penuh dengan buku. Anak-anak berlarian menyerbu mobil itu. Nyaris tidak bisa dikendalikan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan