Menunggu Taka

  • Bagikan

Tiba-tiba seseorang keluar dari sisi lain mobil. Dengan pengeras suara, orang itu mulai mengeluarkan suara-suara lucu. Anak-anak seperti tersihir dan mengikuti perintahnya. Mereka berbaris, menjaga jarak, dan menyodorkan tangannya untuk disemprot cairan. Ajaib sekali dia bisa mengendalikan anak kecil yang bandel.

Pandanganku terhalang mobil jadi tidak bisa menyaksikan anak-anak itu duduk di selasar masjid menjengar cerita. Aku berusaha menajamkan telinga. Sayup-sayup kudengar pendongeng itu berkata, “Halo, adik-adik, siapa yang mau dengar ceritaaaaa?”

“Sayaaaaaa!”

“Kalau begitu, duduk yang rapi. Kak Taka akan bercerita kisah seorang nelayan kecil yang bersahabat dengan lumba-lumba.”

Aku tersenyum di atas bangku beroda.  (*)

Madia S Nura adalah pendongeng, penulis, dan editor naskah. Bergiat di Komunitas Penulis Lego-Lego.

Ket:

*Amma’ku: ibuku (bahasa Makassar)

*Indo’ku: ibunya (bahasa Bugis)

*Paladang: teras rumah panggung (bahasa Makassar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan