Kemanusiaan Pertemukan Semua Agama

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR - Agama tidak seharusnya mengotak-ngotakkan pemeluk. Sebab, ada kemanusiaan yang menjadi nilai bersama.

Kerukunan di tengah beragamnya keyakinan sejatinya bisa diwujudkan. Diperlukan cara pandang disertai sikap bersama dalam mengamalkan esensi dari setiap ajaran agama yang ada.

Setiap agama tentu mengajarkan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan menebarkan kemaslahatan bersama. Dua ajaran ini sangat penting untuk senantiasa diimplementasikan dalam kehidupan sosial.

Demikianlah yang mengemuka dalam diskusi "Membumikan Ide Moderasi Beragama" yang digelar Balai Litbang Agama (BLA) Makassar bersama FAJAR di Graha Pena, Jl Urip Sumoharjo, Senin, 12 Juli.

Sebagai pembicara utama dalam diskusi ini, Kepala BLA Makassar Saprillah menyampaikan bahwa ide tentang moderasi beragama bertujuan untuk mecari titik temu agama-agama.

Moderasi beragama bukanlah cara pandang menafikan perbedaan, tetapi ikhtiar tidak menjadikan perbedaan sebagai alat untuk menjauhkan kemanusiaan.

"Kemanusiaan itu adalah titik di mana kita bisa bertemu," ujar Saprillah.

Ia menegaskan praktik-praktik kemanusian merupakan jalan menuju kemaslahatan. Setiap individu maupun kelompok agama tidak lagi berbicara tentang eksistensi dari agamanya, tetapi lebih ke upaya memanusiakan antara satu dengan yang lain.

"Berbuat baik tidak lagi atas dasar karena kita satu agama. Tapi, karena melihat orang lain itu sebagai manusia yang sepatutnya dihargai dan dibantu," jelasnya.

Kendati begitu, menurut Saprillah ada banyak tantangan dalam menanamkan ide moderasi beragama. Salah satunya adalah keberadaan kelompok tidak rasional.

"Kelompok-kelompok ini tidak perlu kita pakai, yang baperan, dan ngotot. Itu bahaya. Kita fokus saja dengan kelompok rasional yang bisa sama-sama memegang prinsip kemanusiaan sebagai dasar hidup rukun," jelas Saprillah.

Sejauh ini, Kementerian Agama, khususnya BLA Makassar, telah menjalankan berbagai program dalam upaya membumikan ide moderasi agama.

"Tahun ini kita sementara merancang modul pembelajaran moderasi agama. Insyaallah selesai tahun ini dan bisa diakses oleh semua," tutur Saprillah.

"Kita juga gencar menyasar kaum muda dengan terus melakukan diskusi, baik dari sekolah ke sekolah maupun secara umum lainnya seperti sekarang ini bagian dari strategi kita," tandasnya.

Dalam diskusi ini, turut hadir sejumlah pengemuka agama. Salah satunya adalah Pendeta Mince Iman Boron STH. Ia menyepakati bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah ajaran setiap agama.

"Kita di agama Kristen juga setuju kalau ide moderasi ini sangat perlu sekali untuk ditanamkan. Sebab, di agama kami sendiri saja itu banyak perbedaan kelompok," jelasnya.

Kristen, kata dia, adalah agama yang mengutamakan kasih sayang yang diturunkan oleh Yesus Kristus kepada semua pengikutnya.

"Kita juga mau untuk tidak perlu mempermasalahkan perbedaan, tapi mencari persamaan. Kemanusiaan adalah jawabannya," katanya. (maj)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan