Respons Kritikan Dirut RS Unhas, Danny Pomanto Langsung Buat Surat Edaran, Ini Isinya

Selasa, 13 Juli 2021 13:57

Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan 'Danny' Pomanto

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto merespons kritikan Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Universitas Hasanuddin (Unhas), Syafri Kamsul terkait penanganan Covid 19 di Makassar.

Danny menganggap pernyataan yang dilontarkan Syafri bisa berbuah fitnah. Menurutnya, Syafri tidak bisa membedakan tim yang bekerja di lapangan. Apakah itu tim detektor atau Covid 19 Hunter.

“Dia tidak tahu bedakan antara Covid-19 Hunter dengan Detektor, itukan fitnah,” sebut Danny, Selasa (14/7/2021).

Untuk itu Danny bakal mengikuti kemauan dan masukan dari Syafri. Pemkot Makassar bakal melihat sejauh mana protokol kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Baru beraninya dia kasi tahu kalau itu RS Unhas. Nah makanya, saya akan mengikuti maunya mereka. Orang harus pake hazmat, orang harus swab. Jadi kita mulai dari Rumah Sakit Unhas nanti,” katanya.

“Kita lihat, saya bikin surat edaran, dan saya mau lihat RS Unhas, begituji kira kira,” tukas Danny.

Sebelumnya, Dirut RS Unhas, Syafri Kamsul mengkritik penanganan Covid-19 di Makassar. Ia menilai bahwa selama ini petugas yang berada di lapangan kurang mematuhi protokol kesehatan.

Berikut kritikan Syafri yang sempat beredar di sejumlah grup percakapan WhatsApp:

“Mhn izin memberi pandangan sebagai praktisi medis, kami terus terang tidak terlibat pada perencanaan Covid Hunter ini, pemerintah sudah mencanangkan PPKM yg tujuannya mengurangi mobilitas masyarakat dan kontak antar personal yg bisa mentrigger penularan dari apa yg dilakukan Covid Hunter ini sangat beresiko baik untuk personal Covid Hunter maupun transmisi kepada warga mengingat mereka door to door masuk ke rumah2 warga dengan melakukan pemeriksaan tensi, pengukuran suhu tubuh pasti tidak akan ada jarak belum lagi APD yg tidak memadai yg mereka gunakan, seyogyanya mereka memakai APD dengan proteksi maksimum (Masker N95, Hazmat proteksi tertinggi ) namun kenyataannya mereka hanya dgn masker medis biasa sangat beresiko bagi personil Covid Hunter dan selanjutnya resiko pada warga yg didatangi berikutnya”. (ikbal/fajar)

Bagikan berita ini:
3
7
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar