Tim Detektor Terstigma Negatif, Banyak Warga Menolak

  • Bagikan

FAJAR, MAKASSAR -Tim Detektor sudah turun ke warga. Tim ini menyusuri lorong-lorong dan permukiman penduduk. Empat hari tim Detektor ini turun sejak, Sabtu, 10 Juli. Tim ini melakukan traking melacak kondisi kesehatan masyarakat.

Hanya saja, program Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto ini mendapat sorotan. Stigma negatif melekat pada tim detektor. Utamanya dari ahli kesehatan. Menurut ahli dalam webinar, “Makassar Covid Detector Bisakah Mendeteksi Covid”, tim ini timpang. Total 15.306 personel, dominan bukan dari kalangan medis.

Adapun rinciannya yakni hanya ada 306 orang dokter, 5.000 tenaga kesehatan, dan selebihnya 10 ribu orang merupakan relawan. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Ansariadi mengatakan, sebetulnya dibentuknya detektor Covid ini niatnya untuk melindungi masyarakat dari Covid-19.

Akan tetapi, kata Ansariadi, kalau dilihat, publik mempersepsikan ini tidak spesifik untuk Covid-19. Tim ini terlihat datang bergerombol, kemudian menggunakan alat pelindung diri, dan sarung tangan yang dipakai berulang memeriksa orang.

"Ini yang kemudian memunculkan teras isu stigma negatif masyarakat. Adanya tim yang tidak taat prokes," ucapnya.

Narasumber dan mahasiswa doctor di Griffith University Australia, Dicky Budiman, MSc.PH juga melihat kebijakan yang dijalankan di Makassar ini hanya lahir karena keinginan pemimpin.

“Saya melihat ini tidak berbasis sains. Makanya di sini pentingnya juru bicara pemerintah mengomunikasikan apa tujuan detektor," jelasnya.

Sebetulnya kata Dicky Budiman,  program wali kota itu bukan screening, namun lebih ke visitasi. Ini tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan  program screening. Tak ada bedanya seperti kunjungan para tim  posyandu ke rumah.

  • Bagikan