Suami Sibuk Berlayar, Istri Malah Bergoyang dengan Mantan

Jumat, 16 Juli 2021 07:48

ilustrasi hubungan suami istri

FAJAR.CO.ID–Langit Jakarta sore ini terlihat sangat mendung. Gelap, seperti kamar pengantin baru saat malam.

Mendung pun berganti dengan hujan. Deras, menghujani jalan Jakarta yang penuh sesak.

Beruntungnya, aku berada di dekat rumah Mai, mantanku dulu. Tentu aku bisa berteduh sembari melepas rindu.

Aku memberanikan diri untuk mengetuk rumahnya. Aku tahu, dia pasti sedang di rumah sendiri.

Sebab, suaminya yang bekerja di kapal sangat jarang di rumah. Aku rasa, Mai sangat kesepian.

“Assalamualaikum, Mai,” kataku sembari mengetuk pintu.

Suara langkah kaki terdengar pelan menuju pintu. Saat dibuka, terlihat sosok wanita yang pernah aku cintai dulu.

“Hai, apa kabar Mai? Maaf, kebetulan aku lewat sini, terus hujan tiba-tiba turun. Boleh berteduh di sini?” kataku.

Wajah Mai tampak kaget. Namun, dia langsung mempersilakanku masuk.

“Mau aku buatkan teh hangat?” tanya Mai.

“Boleh kalau tidak merepotkan,” jawabku.

Sedikit cerita, aku sempat berpacaran selama tiga tahun dengan Mai. Namun, orang tuanya tak merestui hubungan kami.

“Ini teh hangatnya,” katanya.

“Terima kasih. Sudah lama, kamu masih terlihat cantik,” kataku.

Mai terlihat tersenyum saat mendengar hal itu. Sungguh, senyumnya masih yang terbaik sampai saat ini.

Entah apa yang terjadi, obrolan kami sangat dalam dan menyenangkan. Singkat cerita, aku pun mengajaknya untuk menari bak adegan di film India.

Kami berdua memang sering melakukan hal itu saat sedang merasa senang dulu. Aku ingin merasakan kesenangan itu kembali dengannya.

“Masih suka menari dengan musik India?” tanyaku..

“Masih, tetapi sudah jarang,” jawabnya.

“Mari lakukan lagi, menari bersamaku,” ajakku.

Aku pun langsung memutar lagu India kesukaan kami. Tubuh kami pun mulai ikut bergoyang mengikuti irama lagu.

Tanganku mulai menggenggam tangan lembut Mai. Perlahan, kami berdua pun terlena dalam alunan lagu.

Aku memutar-mutar tubuh Mai. Senang, sudah lama aku tak merasakan hal seperti ini.

Namun, kesenangan yang kami rasakan itu tak berlangsung lama. Baterai ponselku mendadak habis, lagu pun terpaksa berhenti.

“Sudah, sudah. Cukup,” kata Mai.

Setelah hujan reda, Mai pun langsung memintaku kembali pulang. Matanya mendadak seperti orang yang sedang merasa bersalah.

Bagaimana tidak, dia asik bergoyang denganku di sini, sedangkan suaminya sedang menerjang ganasnya ombak di lautan.

“Maaf, hujan sudah reda. Sebaiknya kamu pulang,” kata Mai.

Aku pun memutuskan untuk bergegas pulang. Aku sadar, hal yang kami lakukan memang salah.

“Terima kasih untuk waktu dan perasaanmu yang masih tersimpan untukku,” kataku.

Aku yakin, perasaan Mai sampai saat ini masih milikku. Sebab, pernikahannya ini terjadi karena perjodohan orang tuanya. (Genpi/fajar)

Bagikan berita ini:
7
9
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar