Tes Spesimen Harian Turun, Epidemiolog Bilang Harusnya 1 Juta per Hari

Rabu, 21 Juli 2021 19:21

Ilustrasi-- swab test di perbatasan Madura dan Surabaya, di Jembatan Suramadu. (Rafika Yahya/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM) Darurat diperpanjang hingga 25 Juli 2021. Namun, jika kasus Covid-19 terus menurun, Presiden RI Joko Widodo menuturkan bahwa pembatasan akan dibuka bertahap.

Padahal, angka testing yang dilakukan masih terbilang rendah, bahkan cenderung turun. Menurunnya angka testing pun akhirnya membuat jumlah kasus terlihat turun.

Penurunan terlihat dari pemeriksaan spesimen harian, yaitu 179.275 spesimen pada Selasa (20/7), 160.686 spesimen pada Senin (19/7), 192.918 spesimen pada Minggu (18/7), 251.392 spesimen pada Sabtu (17/7), dan 258.532 spesimen pada Jumat (16/7). Hal ini akhirnya membuat jumlah kasus harian ikut mengalami penurunan.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan, sejak awal pandemi semestinya kuncinya adalah harus dilaksanakannya testing, tracing, dan treatment (3T) yang massif. Jika saja tiga hal tersebut berjalan optimal, kata dia, maka Indonesia bisa terhindar dari pembatasan dan lockdown.

“Keharusan ambil strategi (PPKM Darurat) kan itu adalah strategi tambahan (karena testing dan tracing sedikit, Red). Dengan situasi itu, tak ada pilihan lain,” tambah Dicky.

Meningkatkan 3T secara ekstrem diyakini Dicky bisa menjadi solusi.

“Harus ekstrem. 1 juta tes sehari dengan tracing 80 persen, dengan isolasi karantina 100 persen. Tentunya ini sebaiknya dilakukan di tempat yang tersentralisasi pada kelompok berisiko,” jelasnya.

Bagikan berita ini:
5
7
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar