Anakku Menjadi Pohon

Minggu, 25 Juli 2021 14:13

Ilustrasi Cerpen FAJAR

Cerpen Saharuddin Ronrong

Anakku Yusuf selalu kebagian peran menjadi pohon dalam pertunjukan drama di kelasnya. Ini adalah kali ketiga, kesabaranku hanya sampai di sini. Jika Yusuf masih berperan sebagai pohon tolol lagi pada pertunjukan berikutnya, aku akan memindahkannya ke sekolah lain.

“Yusuf tampaknya selalu kebagian peran jadi pohon ya, Bu. Kalau Kale malah sudah bosan jadi pemeran utama, kalau tidak jadi nabi, ya jadi raja. Tapi seperti kata para guru, apapun perannya yang penting kan pembelajaran di dalamnya. Lagi pula, peran anak-anak itu disesuaikan sama kemampuannya, iya kan Bu?” Bu Ranti mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil menghamburkan kata-kata yang sedang tak ingin kudengar. Aku pura-pura tak memperhatikan, sibuk dengan ritsleting tasku yang macet.

Aku bukan tak pernah memprotes keputusan wali kelas Yusuf, gurunya di kelas satu dan kelas dua mungkin sudah bosan mendengarkan ocehanku setiap kali selesai pengumuman pemeran drama akhir semester atau akhir tahun. Tapi jawaban yang kudapatkan selalu sama, ‘diberi peran lain pun, Yusuf tidak akan mau, dia maunya jadi pohon’.

Bagikan berita ini:
1
6
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar