Ayah Ibu Meninggal Terpapar Covid-19, Begini Cerita Anak di Surabaya

Rabu, 28 Juli 2021 21:02

EMPATI: Pemkot Surabaya menjamin pendidikan hingga lulus anak-anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal dunia karena terpapar Covid-19. (Dipta Wahyu/Surabaya)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Tiga anak di kawasan Kalikepiting, Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, harus menjadi yatim piatu setelah orang tuanya meninggal. Keduanya tutup usia dan dinyatakan terpapar Covid-19. Pemkot Surabaya bakal menjamin kehidupan sehari-hari dan pendidikan tiga anak tersebut.

Kabar duka datang dari warga Kalikepiting. Soegianto dan Deti Susano meninggal dalam waktu yang tidak berselang lama. Mereka juga dinyatakan positif terpapar Covid-19. Soegianto meninggal pada Jumat (23/7) pukul 01.00. Dia menutup mata di rumahnya di Jalan Kalikepiting.

Heri, putra sulung Soegianto, menceritakan bahwa sang ayah memang sudah memiliki riwayat sakit jantung. Soegianto bekerja serabutan, sedangkan sang istri meracang di rumah. Masa pandemi membuat kehidupan mereka makin keras. Hingga akhirnya, Soegianto diindikasikan terpapar Covid-19 dan tidak bekerja lagi. ”Isolasi mandiri (isoman) sudah dilakukan di rumah. Tapi, bapak juga sakit paru-paru hingga meninggal. Pas sakit itu, bapak meninggal di rumah,” kata siswa SMK tersebut.

Pemakaman pun segera dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Keluarga yang ikut juga dibatasi saat pemulasaraan di TPU Keputih. Soegianto meninggalkan tiga anak dan istri.

Namun, belum juga reda rasa kehilangan dan air mata menyaksikan sang bapak dimakamkan. Kabar tragis kembali didengar Heri dan kedua adiknya. Kondisi ibunya kritis, sesak napas, dan lemas. ”Pertama, ibu kritis saat bapak dikubur. Nah, ibu langsung dibawa ke puskesmas. Rencananya mau dibawa ke Lapangan Tembak (Rumah Sakit Lapangan Tembak, Red), tetapi tidak bisa. Mau pinjam tabung oksigen di luar, tapi semua stoknya juga habis,” terangnya.

Dalam kondisi pasrah, Heri dan keluarga membawa Deti pulang ke rumah sambil berharap ada pertolongan yang datang. Namun, hingga tarikan napas terakhir, bantuan itu tak kunjung datang. Deti dinyatakan meninggal pada pukul 11.00.

Melihat kedua orang tuanya meninggal dengan selang waktu kurang dari setengah hari tentu saja meninggalkan luka mendalam. Namun, Heri berusaha tetap tabah. Dia masih harus menguatkan dua adiknya, yakni Sigit, 14, dan Aulia, 11. ”Setelah itu, diantar om ke puskesmas untuk tes swab. Ternyata dua adik saya positif, sementara saya negatif. Mereka harus isoman,” ujarnya.

Heri tidak tega meninggalkan kedua adiknya untuk isoman. Dia akhirnya memaksa ikut isoman di hotel yang sudah disediakan Pemkot Surabaya. Dia bersedia mendampingi kedua adiknya. ”Sampai sekarang masih isoman. Alhamdulillah, kondisi adik dan saya sehat,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos.

Heri mengungkapkan, dirinya masih memiliki kerabat yang rumahnya bersebelahan. Meski begitu, Heri belum memiliki rencana siapa yang menjadi pengganti orang tuanya nanti. Dia masih berharap bisa ikut tante atau pamannya di Surabaya.

Sementara itu, Plt Lurah Pacar Kembang Amdany Praptama Yantony menegaskan bahwa nasib ketiganya yang sudah menjadi yatim piatu akan diupayakan sebaik-baiknya. Sementara, tiga anak itu sudah didaftarkan sebagai penerima permakanan yatim. Untuk pendidikan, ada beasiswa bagi mereka sampai lulus. ”Sudah dijamin Pemkot Surabaya. Sekarang pun kondisinya dipantau terus. Ada pendamping psikologis yang mengawasi mereka semua. Yang pasti, kami akan upayakan yang terbaik bagi mereka,” tuturnya. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
10
2
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar