Memaknai Kematian, Ruh itu akan Tetap Hidup, Jazad yang Meninggal

Kamis, 29 Juli 2021 11:04

Pemakaman jenazah pasien virus corona--jawa pos

Maka dari itu usaha-usaha untuk bertahan hidup di dunia dengan cara yang culas, curang, dengki, tidak jujur, dan kawan-kawannya tidaklah berguna, pada hari perhitungan nanti malah akan menyusahkan diri sendiri. Dan terkadang pun, di dunia juga langsung mendapat ganjaran yang setimpal atau jauh lebih pedih.

Gus Baha sering menyampaikan perihal hakikat memaknai kematian dan kehidupan. Ia mengutip sebuah riwayat doa Nabi yang terdapat dalam kitab Al-Jami’ Shahih Muslim karya Imam Muslim berbunyi: “Allahumma aj’alil hayata ziyadatan li fi kulli khoirin, waj’alil mauta rahatan li min kulli syarrin.” (Ya Allah jadikanlah hidupku untuk menambah segala kebaikan dan matiku sebagai akhir dari segala keburukan.)

Dari riwayat doa Nabi ini Gus Baha mengambil pengertian bahwa hidup hakikatnya haruslah diarahkan kepada potensi untuk menambah kebaikan, termasuk cara-caranya. Mati pun juga begitu, penting mengambil hikmah darinya, yaitu kematian berarti akhir dari adanya potensi melakukan keburukan.

Dengan pengertian demikian, ketika hidup di dunia, seseorang akan menjalaninya dengan terhormat karena berorientasi menambah kebaikan-kebaikan setiap waktunya. Sedangkan jika telah tiba waktunya maut, maka ia bersyukur dan menerima dengan penerimaan yang legawa, lantaran kematiannya mengakhiri segala potensinya berbuat keburukan.

Bagikan berita ini:
2
6
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar