Calon Hakim Agung Nyatakan Pengurangan atau Penambahan Hukuman Terpidana Korupsi Hal yang Lumrah

Selasa, 3 Agustus 2021 17:37

Ilustrasi calon hakim agung

Mantan Ketua Majelis Hakim yang mengadili perkara penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 2017 ini justru menyalahkan masyarakat, jika mendapat informasi yang kurang lengkap. Sehingga memandang, seolah-olah MA atau pengadilan tingkat banding menurunkan hukuman bagi terpidana korupsi.

“Padahal kalau kita lihat sebagaimana yang disampaikan Yang Mulia Bapak Ketua MA bahwa yang ada penurunan itu sudah kita catat hanya di bawah 8 persen. Yang lainnya menguatkan bahkan menambah, ini yang perlu diketahui masyarakat bahwa tidak sebanyak itu,” tegas Dwiarso.Sebagaimana diketahui, Komisi Yudisial menggelar seleksi wawancara bagi 24 Calon Hakim Agung. Seleksi ini diselenggaran pada 3-7 Agustus 2021.

Proses seleksi dilakukan sesuai permintaan Mahkamah Agung (MA) untuk mengisi posisi 13 hakim agung yang kosong. Posisi yang dibutuhkan, yaitu dua hakim agung untuk Kamar Perdata, delapan hakim agung untuk Kamar Pidana, satu hakim agung untuk Kamar Militer, dan dua hakim agung untuk Kamar Tata Usaha Negara (TUN), khusus pajak. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
6
9
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar