Peneliti Singapura Temukan Kombinasi Obat untuk Mengobati Pasien Covid-19

Selasa, 3 Agustus 2021 17:11

Profesor Dean Ho memimpin para peneliti lain di Singapura menemukan kombinasi obat untuk melawan Covid-19 varian Delta (NUS/ST)

FAJAR.CO.ID, SINGAPURA — Di tengah lonjakan kasus akibat Covid-19 varian Delta, peneliti Singapura membawa angin segar. Mereka berhasil menemukan kombinasi obat yang dapat digunakan untuk mengobati pasien Covid-19 dengan penyakit ringan hingga sedang.

Kombinasi obat ini juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam hal efektivitas melawan varian virus Beta dan Delta. Sebuah tim yang dipimpin oleh Direktur Institut Kedokteran Digital Universitas Nasional Singapura Profesor Dean Ho menggunakan platform kecerdasan buatan (AI) dan pengujian virus langsung untuk mendapatkan kombinasi obat yang optimal dengan dosis yang tepat untuk mengobati Covid-19.

Tim telah berkolaborasi dengan DSO National Laboratories untuk menyiapkan platform pada April lalu. Prof Ho mengatakan dosis obat membutuhkan tingkat presisi yang tidak dapat diturunkan secara sewenang-wenang.

Apa saja obatnya? Platform bernama Identif.AI itu telah mengidentifikasi obat kombinasi antara antivirus remdesivir, bersama dengan lopinavir dan ritonavir, yang merupakan obat yang digunakan untuk mengobati pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV). Namun, meski efektif, tidak semua obat tersedia atau dapat dengan mudah diberikan di rumah.

“Misalnya, remdesivir harus diberikan melalui infus (IV) di rumah sakit, sehingga sulit untuk digunakan di masyarakat di rumah,” kata Prof Ho, yang juga mengepalai Departemen Teknik Biomedis NUS, seperti dilansir Straits Times.

Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada obat-obatan yang tersedia atau didapat secara lokal yang dapat dikonsumsi secara oral. Salah satu kombinasi yang dihasilkan adalah duo dinamis yang terdiri dari obat antivirus baru Merck dan Ridgeback Biotherapeutic, molnupiravir, dikombinasikan dengan baricitinib, obat anti-inflamasi.

Prof Ho mengatakan kombinasi tersebut dapat sangat menghambat virus Sars-CoV-2 dalam uji laboratorium, sehingga cocok untuk evaluasi klinis lebih lanjut. Dia menambahkan temuan ini sangat tepat saat Singapura bergerak menuju situasi endemik Covid-19.

“Jadi kami mencari terapi kombinasi yang pada akhirnya dapat diberikan kepada pasien dengan penyakit ringan yang sedang dalam pemulihan di rumah, atau di fasilitas perawatan masyarakat,” katanya.

Beberapa kombinasi juga akan cocok untuk pasien rawat inap. Sehingga membantu mengalihkan perawatan dari rumah sakit ke dokter umum dan poliklinik.

Kombinasi Obat Molnupiravir-Baricitinib

Obat-obatan tersebut dipilih melalui konsultasi dengan ahli penyakit menular dan ahli onkologi dari Pusat Nasional untuk Penyakit Menular, Kedokteran NUS dan Rumah Sakit Universitas Nasional (NUH). Sebanyak 12 obat termasuk berbagai antivirus dan obat kanker diuji dan diberi peringkat menurut kemanjurannya dalam menghambat virus Sars-CoV-2. Dalam waktu tiga minggu, tim telah mengidentifikasi kombinasi molnupiravir-baricitinib untuk kandidat pengobatan.

Konsultan senior di Divisi Penyakit Menular NUH dr Louis Chai, mengingatkan bahwa belum ada data dari uji klinis yang menunjukkan kombinasi obat efektif di semua fase penyakit Covid-19. Dia mencatat bahwa beberapa obat dapat mengurangi viral load Sars-CoV-2 pada pasien, tetapi mungkin tidak memperlambat perkembangan penyakit atau mencegah kematian.

Direktur laboratorium (Laboratorium Teknologi Molekuler Terapan) di Institut Penelitian Medis & Lingkungan Pertahanan dari DSO dr Conrad Chan, mengatakan molnupiravir sendiri efektif melawan virus Sars-CoV-2 serta varian Beta dan Delta. Dengan demikian, ini adalah kandidat obat ‘tulang punggung’ yang kuat.

“Ini karena obat tersebut mengganggu bagian dari virus yang disimpan di berbagai varian,” katanya.

Prof Ho mengatakan timnya sekarang sedang melakukan uji klinis untuk molnupiravir dan kombinasi obatnya pada pasien Covid-19. Individu yang divaksin dengan penyakit ringan hingga sedang dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari kohort penelitian.

Setelah membuat database kombinasi obat untuk Covid-19, tim akan terus bekerja dengan dokter untuk mencari obat baru yang dapat ditambahkan ke gudang senjatanya. Hal ini dapat membantu memperluas jangkauan obat yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19 di masa depan. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
4
10
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar