Data Bloomberg, Penanganan Pandemi di Indonesia Paling Buruk

Rabu, 4 Agustus 2021 07:15

Ilustrasi: 1.500 relawan tenaga kesehatan hingga pasien yang berada di Wisma Atlet mengayunkan angklung dalam Peringatan 1 Tahun perjuangan RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran beroperasi menangani pandemi Corona, Selasa (23/3/2021). Dalam Perayaan ini seluruh Nakes dan pasien mengheningkan cipta serta mengayunkan angklung sebagai peringatan terhadap tenaga kesehatan yang gugur karena Covid-19. (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun mendadak membeberkan penanganan covid-19 Presiden Joko Widodo (Jokowi) terburuk di dunia.

Hal tersebut diungkapkan Refly Harun dalam video yang tayang di kanal YouTube miliknya, Senin (2/8).

Refly Harun blak-blakan mengungkapkan, Indonesia turun empat peringkat ke posisi 53 dari 53 negara, dalam skor ketahanan terhadap covid-19 versi laporan Bloomberg.

“Luar biasa ya. Kira-kira buzzer mau ngomong apa kalau begini?” jelas Refly Harun.

Sebagai informasi, Indonesia memperoleh skor 40,2 persen, kalah dari negara tetangga seperti Malaysia dengan skor 42,5 persen, Filipina dengan skor 45,5 persen, serta Vietnam dengan skor 48,7 persen.

Penilaian Bloomberg itu didasari oleh masih tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Tanah Air, rendahnya angka vaksinasi, hingga tingkat keparahan pembatasan wilayah.

“Indonesia kan tidak bisa mengantisipasi gelombang kedua Juni kemarin, di mana korban meninggal luar biasa. Saya mendengar tiap hari ada saja yang meninggal karena Covid-19,” ungkap Refly Harun.

Menurut pengamat politik itu, bahwa pemerintah seolah-olah memandang pandemi covid-19 sebagai gelombang laut yang tidak dapat diprediksi.

Padahal, Indonesia sudah mengalami pandemi covid-19 selama 1,5 tahun.

“Bukankah ini sebuah pandemi yang sudah kita kelola sejak 1,5 tahun yang lalu? Kan masalahnya adalah ketika pengelolaannya salah, pengelolaanya keliru, maka tingkat kasus akan tinggi. Kan begitu,” jelas Refly Harun.

“Jadi bukan ini adalah real attack seperti bencana gelombang pasang, angin topan yang kita hanya menyandarkan pada kodrat Yang Maha Kuasa. Tapi ini adalah sebuah pandemi yang kita sudah tahu 1,5 tahun yang lalu dan pertanyaannya adalah sekarang ini bagaimana mengelolanya. Jadi, manajemen pengelolannya yang bermasalah,” lanjutnya.

Apabila sejak awal tidak siap, maka tidak boleh menyalahkan bahwa seolah-olah pandemi ini sebuah bencana yang tiba-tiba.

“Penanganan yang tidak konsisten, tidak jelas, dan tidak tegas dapat memperburuk kondisi di dalam negeri,” kata Refly Harun.(genpi/fajar)

Bagikan berita ini:
8
4
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar