KRITIK

Rabu, 4 Agustus 2021 07:21

Arief Wicaksono

Ratusan tahun yang lalu, Immanuel Kant telah menulis Critique of Pure Reason (1781), sebagai upaya penelusuran epistemologis atas perdebatan intra-paradigmatik yang tak kunjung usai antara Rasionalisme Leibniz dan Descartes versus Empirisme Locke, Berkeley dan Hume (Rickman, 2006). Dalam upaya tersebut, Kant menjelaskan bahwa nalar atau rasio, akan selalu terhubung dengan pengalaman, melalui pengidentifikasian basis dan limitasi pengetahuan manusia. Dalam magnum opus-nya, Kant berhasil mendemonstrasikan bahwa rasionalisme dan empirisme, yaitu nalar dan akal, dapat saling melengkapi satu dengan yang lain (Kant, dalam Rickman, 2006).

Dalam konteks itu, kritik merupakan entitas objektif – rasional sekaligus empirik – yang mengarah pada sebuah status ontologis dari sesuatu, terutama tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang ‘kasat mata’, dapat dipahami secara linier, tanpa harus menggunakan segala macam keruwetan yang bersifat lateral. Artinya, dari sudut pandang manapun, selama sesuatu itu masih terjangkau oleh panca indera, selama ia bisa dirasakan kehadirannya, bahkan oleh yang awam sekalipun, maka kritik akan datang dengan sendiri dari mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

Bagikan berita ini:
10
5
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar