KRITIK

Rabu, 4 Agustus 2021 07:21

Arief Wicaksono

KRITIK DAN KEKUASAAN

Lalu bagaimana dengan kekuasaan? Apakah ia menjadi entitas dogmatik stand-alone yang tak tersentuh? Untouchable? No. Kekuasaan tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan banyak tangan untuk menopangnya. Seperti tubuh, mereka membutuhkan seperangkat sistem yang tidak hanya terdiri dari input, proses, output dan feed back atau umpan balik, tapi juga terdiri dari banyak struktur yang menjalankan fungsi-fungsi tertentu, sehingga kekuasaan bisa berjalan, berlari, atau bahkan menari. Secara eksternal, kekuasaan membutuhkan tak hanya rekognisi atau pengakuan, tapi ia juga membutuhkan legitimasi dan lingkungan untuk berdialog, untuk berkomunikasi, dan untuk keberlanjutannya.

Oleh karena itu, alih-alih dianggap sampah atau lalat, kritik dengan sendirinya justru dapat membedakan dirinya dengan hinaan atau cercaan, yang menjadi menjadi fitur-fitur utama dari skeptisisme buta, yang cenderung menihilkan kemampuan entitas kekuasaan, untuk memperbaiki sesuatu atau memperbaiki keadaan, sebagai akibat politik dari kebijakan yang ia keluarkan. Kritik sesungguhnya dapat menjadi partner bagi kekuasaan untuk memperbaiki kerusakan yang ia hasilkan. Critics carries some desire to improvement. Insult is just needless abuse, begitu kata seorang motivator.

Bagikan berita ini:
1
5
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar