KRITIK

Rabu, 4 Agustus 2021 07:21

Arief Wicaksono

KRITIK DAN PENANGANAN PANDEMI

Penanganan pandemi Covid-19 oleh Pemerintah, adalah fenomena mutakhir yang tidak dapat lepas dari kritik. Kritikus banyak memberikan tanggapan atas apa yang telah dilakukan Pemerintah. Mulai dari sikap awal Pemerintah yang terkesan bercanda dengan wabah virus, terungkapnya pola pikir yang dilematis dalam menetapkan pilihan aksi, antara kesehatan atau ekonomi, penetapan kebijakan yang membuka peluang terjadinya korupsi, hingga kecenderungan sikap anti sains, dan yang tidak bisa dihindarkan adalah, berkembangnya secara terbuka, dugaan publik atas tesis Lasswell tentang siapa, dapat apa, bagaimana, kapan, dimana, dan berapa banyak.

Akan tetapi, para juru bicara kekuasaan selalu pula menyampaikan kepada publik, bahwa kekuasaan ‘sudah dan sedang berbuat, tolong jangan diganggu’. Seolah-olah mereka menggap bahwa kritikus bisanya hanya bicara saja, tapi tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi memberikan solusi. Pola pikir yang seperti ini menyesatkan dan sebaiknya dapat diminimalisir, sebab seperti pemikiran Kant diatas, masing-masing pengetahuan memiliki limitasinya sendiri.

Rasionalisme para kritikus, berbeda dengan pengalaman para penguasa. Keduanya tidak saling menegasikan, melainkan justru saling melengkapi. Rasionalisme kritik, basisnya adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “mengapa”, sedangkan basis empirisme kekuasaan adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “bagaimana”. Sehingga dengan demikian, solusi, idealnya menjadi urusan kekuasaan setelah mendengar dan mendalami kritik. Oleh karena itu, jika kritikus bisa memberikan solusi, maka sebaiknya jangan sekali-kali memberikan kritik.

Bagikan berita ini:
10
1
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar