KRITIK

Rabu, 4 Agustus 2021 07:21

Arief Wicaksono

Oleh: Arief Wicaksono (Peneliti Pentahelix)

Banyak yang menganggap kritik adalah sebuah aktivitas negatif dalam menolak sesuatu, bahkan oleh beberapa pihak, terutama oligarki dan kekuasaan, mengkritik adalah aktivitas yang terlarang. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena tidak menjadi bagian dari yang berbuat. Beberapa yang lain menempatkan kritik sebagai sampah dan pelaku kritik dianggap sebagai lalat, oleh karena itu kritik harus dibuang jauh-jauh, supaya lalat tidak datang mengerubungi sampah.

EPISTEMOLOGI KRITIK

Mungkin banyak yang terlewatkan, bahwa sebenarnya kritik adalah kata kerja sekaligus kata benda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kritik dikategorikan sebagai kata benda yang maknanya adalah tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan jika merujuk pada Kamus Merriam-Webster, kritik dikategorikan sebagai kata kerja, yang bermakna melakukan atau memberikan evaluasi yang disertai dengan penilaian yang sangat hati-hati.

Dari berbagai pemaknaan itu, kiranya dapat disebutkan bahwa tujuan dari kritik sebenarnya sama, yaitu agar ada evaluasi, menguraikan masalah, menunjukkan mana yang baik dan mana yang kurang baik, sehingga obyek kritik bisa mengetahui dimana letak kelemahannya. Oleh karena itu dalam pandangan umum, kritik selalu bersifat membangun, konstruktif, sehingga yang dikritik idealnya mendapat wawasan yang positif untuk dapat melakukan perbaikan.

Ratusan tahun yang lalu, Immanuel Kant telah menulis Critique of Pure Reason (1781), sebagai upaya penelusuran epistemologis atas perdebatan intra-paradigmatik yang tak kunjung usai antara Rasionalisme Leibniz dan Descartes versus Empirisme Locke, Berkeley dan Hume (Rickman, 2006). Dalam upaya tersebut, Kant menjelaskan bahwa nalar atau rasio, akan selalu terhubung dengan pengalaman, melalui pengidentifikasian basis dan limitasi pengetahuan manusia. Dalam magnum opus-nya, Kant berhasil mendemonstrasikan bahwa rasionalisme dan empirisme, yaitu nalar dan akal, dapat saling melengkapi satu dengan yang lain (Kant, dalam Rickman, 2006).

Dalam konteks itu, kritik merupakan entitas objektif – rasional sekaligus empirik – yang mengarah pada sebuah status ontologis dari sesuatu, terutama tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang ‘kasat mata’, dapat dipahami secara linier, tanpa harus menggunakan segala macam keruwetan yang bersifat lateral. Artinya, dari sudut pandang manapun, selama sesuatu itu masih terjangkau oleh panca indera, selama ia bisa dirasakan kehadirannya, bahkan oleh yang awam sekalipun, maka kritik akan datang dengan sendiri dari mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

KRITIK DAN KEKUASAAN

Lalu bagaimana dengan kekuasaan? Apakah ia menjadi entitas dogmatik stand-alone yang tak tersentuh? Untouchable? No. Kekuasaan tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan banyak tangan untuk menopangnya. Seperti tubuh, mereka membutuhkan seperangkat sistem yang tidak hanya terdiri dari input, proses, output dan feed back atau umpan balik, tapi juga terdiri dari banyak struktur yang menjalankan fungsi-fungsi tertentu, sehingga kekuasaan bisa berjalan, berlari, atau bahkan menari. Secara eksternal, kekuasaan membutuhkan tak hanya rekognisi atau pengakuan, tapi ia juga membutuhkan legitimasi dan lingkungan untuk berdialog, untuk berkomunikasi, dan untuk keberlanjutannya.

Oleh karena itu, alih-alih dianggap sampah atau lalat, kritik dengan sendirinya justru dapat membedakan dirinya dengan hinaan atau cercaan, yang menjadi menjadi fitur-fitur utama dari skeptisisme buta, yang cenderung menihilkan kemampuan entitas kekuasaan, untuk memperbaiki sesuatu atau memperbaiki keadaan, sebagai akibat politik dari kebijakan yang ia keluarkan. Kritik sesungguhnya dapat menjadi partner bagi kekuasaan untuk memperbaiki kerusakan yang ia hasilkan. Critics carries some desire to improvement. Insult is just needless abuse, begitu kata seorang motivator.

KRITIK DAN PENANGANAN PANDEMI

Penanganan pandemi Covid-19 oleh Pemerintah, adalah fenomena mutakhir yang tidak dapat lepas dari kritik. Kritikus banyak memberikan tanggapan atas apa yang telah dilakukan Pemerintah. Mulai dari sikap awal Pemerintah yang terkesan bercanda dengan wabah virus, terungkapnya pola pikir yang dilematis dalam menetapkan pilihan aksi, antara kesehatan atau ekonomi, penetapan kebijakan yang membuka peluang terjadinya korupsi, hingga kecenderungan sikap anti sains, dan yang tidak bisa dihindarkan adalah, berkembangnya secara terbuka, dugaan publik atas tesis Lasswell tentang siapa, dapat apa, bagaimana, kapan, dimana, dan berapa banyak.

Akan tetapi, para juru bicara kekuasaan selalu pula menyampaikan kepada publik, bahwa kekuasaan ‘sudah dan sedang berbuat, tolong jangan diganggu’. Seolah-olah mereka menggap bahwa kritikus bisanya hanya bicara saja, tapi tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi memberikan solusi. Pola pikir yang seperti ini menyesatkan dan sebaiknya dapat diminimalisir, sebab seperti pemikiran Kant diatas, masing-masing pengetahuan memiliki limitasinya sendiri.

Rasionalisme para kritikus, berbeda dengan pengalaman para penguasa. Keduanya tidak saling menegasikan, melainkan justru saling melengkapi. Rasionalisme kritik, basisnya adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “mengapa”, sedangkan basis empirisme kekuasaan adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “bagaimana”. Sehingga dengan demikian, solusi, idealnya menjadi urusan kekuasaan setelah mendengar dan mendalami kritik. Oleh karena itu, jika kritikus bisa memberikan solusi, maka sebaiknya jangan sekali-kali memberikan kritik.

KRITIK

olehArief WicaksonoPeneliti Pentahelix

Banyak yang menganggap kritik adalah sebuah aktivitas negatif dalam menolak sesuatu, bahkan oleh beberapa pihak, terutama oligarki dan kekuasaan, mengkritik adalah aktivitas yang terlarang. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena tidak menjadi bagian dari yang berbuat. Beberapa yang lain menempatkan kritik sebagai sampah dan pelaku kritik dianggap sebagai lalat, oleh karena itu kritik harus dibuang jauh-jauh, supaya lalat tidak datang mengerubungi sampah.

EPISTEMOLOGI KRITIK

Mungkin banyak yang terlewatkan, bahwa sebenarnya kritik adalah kata kerja sekaligus kata benda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kritik dikategorikan sebagai kata benda yang maknanya adalah tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan jika merujuk pada Kamus Merriam-Webster, kritik dikategorikan sebagai kata kerja, yang bermakna melakukan atau memberikan evaluasi yang disertai dengan penilaian yang sangat hati-hati.

Dari berbagai pemaknaan itu, kiranya dapat disebutkan bahwa tujuan dari kritik sebenarnya sama, yaitu agar ada evaluasi, menguraikan masalah, menunjukkan mana yang baik dan mana yang kurang baik, sehingga obyek kritik bisa mengetahui dimana letak kelemahannya. Oleh karena itu dalam pandangan umum, kritik selalu bersifat membangun, konstruktif, sehingga yang dikritik idealnya mendapat wawasan yang positif untuk dapat melakukan perbaikan.

Ratusan tahun yang lalu, Immanuel Kant telah menulis Critique of Pure Reason (1781), sebagai upaya penelusuran epistemologis atas perdebatan intra-paradigmatik yang tak kunjung usai antara Rasionalisme Leibniz dan Descartes versus Empirisme Locke, Berkeley dan Hume (Rickman, 2006). Dalam upaya tersebut, Kant menjelaskan bahwa nalar atau rasio, akan selalu terhubung dengan pengalaman, melalui pengidentifikasian basis dan limitasi pengetahuan manusia. Dalam magnum opus-nya, Kant berhasil mendemonstrasikan bahwa rasionalisme dan empirisme, yaitu nalar dan akal, dapat saling melengkapi satu dengan yang lain (Kant, dalam Rickman, 2006).

Dalam konteks itu, kritik merupakan entitas objektif – rasional sekaligus empirik – yang mengarah pada sebuah status ontologis dari sesuatu, terutama tentang kepercayaan terhadap sesuatu yang ‘kasat mata’, dapat dipahami secara linier, tanpa harus menggunakan segala macam keruwetan yang bersifat lateral. Artinya, dari sudut pandang manapun, selama sesuatu itu masih terjangkau oleh panca indera, selama ia bisa dirasakan kehadirannya, bahkan oleh yang awam sekalipun, maka kritik akan datang dengan sendiri dari mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

KRITIK DAN KEKUASAAN

Lalu bagaimana dengan kekuasaan? Apakah ia menjadi entitas dogmatik stand-alone yang tak tersentuh? Untouchable? No. Kekuasaan tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan banyak tangan untuk menopangnya. Seperti tubuh, mereka membutuhkan seperangkat sistem yang tidak hanya terdiri dari input, proses, output dan feed back atau umpan balik, tapi juga terdiri dari banyak struktur yang menjalankan fungsi-fungsi tertentu, sehingga kekuasaan bisa berjalan, berlari, atau bahkan menari. Secara eksternal, kekuasaan membutuhkan tak hanya rekognisi atau pengakuan, tapi ia juga membutuhkan legitimasi dan lingkungan untuk berdialog, untuk berkomunikasi, dan untuk keberlanjutannya.

Oleh karena itu, alih-alih dianggap sampah atau lalat, kritik dengan sendirinya justru dapat membedakan dirinya dengan hinaan atau cercaan, yang menjadi menjadi fitur-fitur utama dari skeptisisme buta, yang cenderung menihilkan kemampuan entitas kekuasaan, untuk memperbaiki sesuatu atau memperbaiki keadaan, sebagai akibat politik dari kebijakan yang ia keluarkan. Kritik sesungguhnya dapat menjadi partner bagi kekuasaan untuk memperbaiki kerusakan yang ia hasilkan. Critics carries some desire to improvement. Insult is just needless abuse, begitu kata seorang motivator.

KRITIK DAN PENANGANAN PANDEMI

Penanganan pandemi Covid-19 oleh Pemerintah, adalah fenomena mutakhir yang tidak dapat lepas dari kritik. Kritikus banyak memberikan tanggapan atas apa yang telah dilakukan Pemerintah. Mulai dari sikap awal Pemerintah yang terkesan bercanda dengan wabah virus, terungkapnya pola pikir yang dilematis dalam menetapkan pilihan aksi, antara kesehatan atau ekonomi, penetapan kebijakan yang membuka peluang terjadinya korupsi, hingga kecenderungan sikap anti sains, dan yang tidak bisa dihindarkan adalah, berkembangnya secara terbuka, dugaan publik atas tesis Lasswell tentang siapa, dapat apa, bagaimana, kapan, dimana, dan berapa banyak.

Akan tetapi, para juru bicara kekuasaan selalu pula menyampaikan kepada publik, bahwa kekuasaan ‘sudah dan sedang berbuat, tolong jangan diganggu’. Seolah-olah mereka menggap bahwa kritikus bisanya hanya bicara saja, tapi tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi memberikan solusi. Pola pikir yang seperti ini menyesatkan dan sebaiknya dapat diminimalisir, sebab seperti pemikiran Kant diatas, masing-masing pengetahuan memiliki limitasinya sendiri.

Rasionalisme para kritikus, berbeda dengan pengalaman para penguasa. Keduanya tidak saling menegasikan, melainkan justru saling melengkapi. Rasionalisme kritik, basisnya adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “mengapa”, sedangkan basis empirisme kekuasaan adalah pertanyaan yang didahului oleh kata tanya “bagaimana”. Sehingga dengan demikian, solusi, idealnya menjadi urusan kekuasaan setelah mendengar dan mendalami kritik. Oleh karena itu, jika kritikus bisa memberikan solusi, maka sebaiknya jangan sekali-kali memberikan kritik.


Bagikan berita ini:
6
5
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar