Soal Pesawat Kepresidenan, Mardani PKS: Pemimpin Mestinya Punya Standar Moral dan Etika

Rabu, 4 Agustus 2021 12:39

Politisi PKS, Mardani Ali Sera

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Politisi PKS, Mardani Ali Sera ikut bersuara terkait pengecatan pesawat kepresidenan yang menelan anggaran hingga Rp 2,1 miliar.

Menurut Mardani, pengecatan itu bukan sesuatu hal yang bijak dari pemerintah. Pasalnya rakyat Indonesia masih susah payah dengan pandemi covid-19 yang belum juga usai.

“Mengecat pesawat kepresidenan di masa pandemi itu tidak bijak,” ujar Mardani pada sebuah video yang ia posting di twitter pribadinya. Rabu (4/8/2021).

Ia pun menyebut, harusnya pemimpin memiliki sisi humanis yang peka, sehingga dapat merasakan apa yang masyarakat rasakan saat ini.

“Pemimpin mestinya memiliki standar moral dan etika yang betul-betul lembut dan mudah terenyuh,” lanjutnya.

Harusnya lanjut Anggota DPR RI ini, anggaran pengecatan pesawat ini dialihkan untuk pemulihan ekonomi. Terlebih bagi mereka yang di-PHK karena pandemi.

“Mestinya bisa dibilang ditunda atau alihkan bagi masyarakat yang lebih perlu. Banyak sekali PHK, banyak sekali masyarakat yang tidak dapat bekerja,” lanjutnya.

Mardani mengibaratkan pemimpin adalah Ayah dari rakyatnya, sehingga mereka harus menyayangi dan mengasihi rakyatnya. Bukan melakukan tindakan yang tidak penting untuk rakyat.

“Mari pemimpin contohkan menjadi ayah bagi rakyatnya, bukannya saat rakyatnya susah pemimpinnya malah mengecat sesuatu yang tidak urgent,” pungkasnya.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono meluruskan, pengecatan ulang Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 sudah direncanakan sejak 2019.

“Dapat dijelaskan bahwa pengecatan pesawat ini telah direncanakan sejak 2019 serta diharapkan dapat memberikan kebanggaan bagi bangsa dan negara,” kata Heru di Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Kata dia, sejatinya, pengecatan Pesawat BBJ 2 ini terkait dengan perayaan Hari Ulang Tahun ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia pada 2020.

Proses pengecatan sendiri merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ.

Pesawat RJ adalah pesawat Kepresidenan British Aerospace RJ 85 (BAe-RJ 85) atau biasa disebut RJ-85 yang biasa dipakai oleh wakil presiden untuk melakukan kunjungan kerja.

“Namun pada 2019, pesawat BBJ 2 belum memasuki jadwal perawatan rutin sehingga yang dilaksanakan pengecatan terlebih dahulu untuk Heli Super Puma dan pesawat RJ,” beber Heru.

Presiden Joko Widodo menggunakan pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet (BBJ) 2 tipe 737-800. Pesawat BBJ 2 itu dipesan pada 2011. Namun, baru digunakan sebagai pesawat kepresidenan Indonesia mulai 2014 atau tahun terakhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (zaki/fajar)

Bagikan berita ini:
8
5
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar