Drama Donasi Akidi Tio Seret Prank Rp11.000 Triliun, Netizen: Mukidi Harusnya Dijemput Paksa

Kamis, 5 Agustus 2021 15:55

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Drama sumbangan fiktif keluarga Akidi Tio Rp2 triliun belum selesai. Kabarnya, dana tersebut tersimpan di salah satu bank di Singapura.

Warganet mengaitkan sumbangan fiktif itu dengan ucapan Presiden Jokowi yang menyebut uang warga negara Indonesia (WNI) yang disimpan di luar negeri Rp11.000 triliun.

Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu me-retweet cuitan @__4Lf4th112ad7a yang menyindir prank Rp11.000 triliun.

“Akidi hanya Prank Rp2 T, sementara Mukidi sebar Prank Rp11.000 T. Bahkan bkn cuma 11.000 T, Mukidi juga sebar Prank soal mobil SMK, buy back Indosat, tidak akan import, tidak bagi-bagi jabatan, tidak akan utang, dan seterusnya,” tulisnya.

“Mukidi harusnya juga dijemput paksa, diperlakukan sama seperti anak Akidi,” tambahnya.

Pemilik akun @elisa_jkt membagikan tangkapan layar berita setgab.go.id berjudul “Datanya Sudah Ada, presiden Jokowi: Uang Kita Yang Disimpan di Luar Negeri Rp11.000 Triliun”.

Elisa sempat mengira pernyataan Jokowi yang menyebut uang WNI Rp11.000 triliun tersimpan di luar hanya candaan warganet.

“Jiahhh, saya pikir yang 11.000 T itu becandaan netijen. Ternyata beneran pernyataan resmi Negara,” tulis Elisa.

Berita yang diposting di situs resmi Sekretariat Kabinet itu sudah dihapus.

Diketahui, pernyataan Presiden Jokowi yang menyebut uang WNI Rp11.000 trilin tersimpan di luar negeri itu disampaikan dalam acara sosialisasi amnesti pajak atau “tax amnesty” di Balikpapan, Senin (5/12/2016).

Saat itu, Presiden Jokowi menyebut ada kurang lebih Rp11.000 triliun uang milik masyarakat dan perusahaan Indonesia yang disimpan di luar negeri.

“Kalau ada yang ngomong tidak percaya, saya buka datanya sekarang. Kalau diperbolehkan karena tidak diperbolehkan. Yang tahu saya, Menkeu, Dirjen Pajak, itu aturan mainnya,” kata Jokowi kala itu.

Jokowi mengatakan, kalau saja dana Rp11.000 triliun itu tersimpan di dalam negeri, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana besarnya manfaat yang bisa diperoleh.

“Ini ada Rp11.000 triliun, bayangkan. Ngapain kita harus narik uang negara lain, uang kita sendiri ada, hanya mau atau tidak mau uang itu kita bawa ke dalam. Tapi memang syaratnya harus kita punyai agar yang memiliki uang merasa nyaman, membawa uangnya masuk,” ucapnya.

Pemerintah sudah berupaya menarik dana-dana asing itu ke Indonesia. Salah satunya dengan program amnesti pajak.

Pada periode I program amnesti pajak, Jokowi mengungkapkan baru sekitar Rp143 triliun yang melakukan repatriasi.

“Yang repatriasi baru terakhir Rp143 triliun, kecil banget, sangat kecil. Masih sangat kecil. Buat saya masih kurang, masih ada uang yang besar di luar negeri,” kata Presiden.

Jokowi menyebut program amnesti pajak periode pertama merupakan yang paling berhasil di dunia.

“Coba lihat angkanya, pada periode pertama saja sudah 30,88 persen dari PDB kita, yang lain-lain di bawah 10 semua,” tandas Jokowi. (pojoksatu/fajar).

Bagikan berita ini:
6
2
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar