PPKM, Hoaks, dan Literasi

Kamis, 12 Agustus 2021 22:37

Oleh: Arman

(Prahum Kanwil Kemenkumham Sulsel)

Awal Juli, bulan lalu, kondisi mencekam sempat terjadi di Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta akibat kasus konfirmasi positif Covid-19 meningkat tajam. Rumah sakit rujukan Covid-19 penuh, persediaan obat terbatas, stok tabung oksigen tidak cukup untuk dibagi ke pasien, bahkan pengurusan jenazah juga perlu antri. Pasien berlebih, tenaga medis terbatas.

Untunglah, keadaan ini lambat laun bisa ditekan dengan pendisiplinan Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kondisi seperti ini bisa saja terulang jika kita tidak waspada. Kita harus kendalikan, kabar terbaru sudah mulai tampak lonjakan angka pasien terpapar di luar Jawa-Bali. Sekali lagi, kita wajib waspada. Opsi ilmiah yang kita punya sekarang, hanya disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi.

Pemberlakuan PPKM sejatinya dipahami secara komprehensif, sebagai langkah darurat untuk memperkecil resiko pandemi. Penerapan pembatasan ini tanpa diiringi kesadaran kolektif tentu saja tidak akan memperoleh hasil maksimal. Cluster-cluster baru akan terus bermunculan.

Data Kementerian Kesehatan per 10 Agustus total terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 3.718.821 (+32.081), meninggal dunia: 110.619 (+2.048), dan sembuh 3.171.147 (+41.486). Sebagai kesimpulan dari perkembangan data ini, kita belum berhasil mengendalikan sebaran Covid-19.

Bagikan berita ini:
4
2
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar