Kemenkes Buka-bukaan soal Tantangan Terbesar dalam Penanganan Covid-19

Senin, 23 Agustus 2021 21:44

Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menegaskan data WHO menyebutkan vaksin masih bisa efektif untuk menangkal varian Delta. (YouTube Sekretariat Presiden/Antara)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi buka-bukaan terkait hal yang menjadi tantangan terbesar dalam penanganan COVID-19, terutama terkait vaksin.

Menurutnya tantangan terbesar yakni penyebaran hoaks dan misinformasi terkait vaksin dan COVID-19. “Kendala terbesarnya adalah misinformasi dan hoaks.”

“Seiring dengan informasi yang kami berikan, hoaks dan misinformasi juga makin banyak.” “Saat ini informasi salah atau hoaks terkait vaksin ada 1.300. Ini adalah sebuah tantangan,” ujar dr.

Nadia dalam jumpa pers daring, Senin (23/8). Menurut dokter Nadia hoaks dan misinformasi muncul secara timbul-tenggelam.

Karena itu penting bagi masyarakat untuk lebih jeli dan kritis dalam menerima, hingga menyebarkan sebuah informasi. “Ini adalah tantangan utama, agar masyarakat mau cek beritanya hoaks atau tidak,” kata dia.

Dokter Nadia melanjutkan, isu yang paling banyak diangkat di narasi hoaks terkait vaksinasi adalah mengenai efek samping.

“Misalnya setelah vaksin malah menjadi lumpuh, meninggal dunia, sampai tubuh tertanam chip, dan lainnya.”

“Kalau (hoaks/misinformasi) terkait COVID-19 banyak sekali, terutama soal obat-obatan COVID-19 dan setelah vaksinasi seperti air kelapa, susu kaleng, minyak kayu putih, dan lainnya.”

“Ada juga soal COVID-19 adalah penyakit seperti flu dan tidak perlu masker. Ini misleading jika kemudian masyarakat membaca hal tersebut,” katanya.Menurut dokter Nadia, hoaks dan informasi salah dapat menciptakan keraguan masyarakat untuk mengikuti vaksinasi.

“Ini membuat masyarakat ragu-ragu, karena edukasi dan sosialisasi yang belum sampai dan tidak tahu harus bertanya ke mana,” katanya. (ant/jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
5
3
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar