Nominator Desa Wisata dari Sulsel (1-)

  • Bagikan

Ketujuh layar ini memiliki makna atau simbol jika nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera di dunia.

Keahlianya pada panrita lopi tersebut tidak pernah dia pelajari dari bangku sekolah ataupun kuliah, melainkan ilmu turun temurun yang diwarisi dari generasi sebelumnya.

Keahlian mereka bukan sekadar isapan jempol belaka, pasalnya bahkan dunia telah mengakui kehebatan para panrita merakit kapal yang mampu berlayar dan mengarungi samudra hingga berlabuh di Madagascar, Australia di tahun 1986. Itu telah ditetapkan menjadi warisan dunia tak benda oleh UNESCO.

Baso salah satunya, lelaki yang kini tak muda lagi itu, dengan telaten menempel serutan kayu yang yang dicampur dengan kapas berbentuk panjang untuk mencegah masuknya air dari sela-sela papan lambung kapal.

Keahliannya dan warga Ara lainnya turun-temurun didapat dari pendahulu mereka. Mereka percaya, itu bermula saat kapal Sawerigading yang mengejar cinta We Cudai ke negeri Tiongkok terpecah tiga di perairan Bulukumba, yaitu Desa Ara, Tana Beru, dan Lemo-Lemo.

Ketiga penduduk masyarakat tersebut membantu Sawerigading merakit kembali kapal yang lebih kuat menahan terjangan ombak dan samudera. Itulah mengapa Desa Ara dikenal sebagai pembuat Pinisi yang ahli.

Kapal Pinisi menggunakan kayu jenis Bitti, kayu yang hanya ada di Bulukumba, memiliki tekstur lebih lunak dan lebih ringan namun kuat dibandingkan kayu lain.

Namun, kayu Bitti tak lagi menjadi kayu untuk memproduksi kapal yang telah terkenal hingga dunia. Jenis Bitti telah lama habis, tergantikan dengan kayu besi dari daerah Sulawesi Tenggara.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan