Nominator Desa Wisata dari Sulsel (1-)

  • Bagikan

Ara Rumah Para Ahli Pembuat Pinisi

Keindahan alam Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba memikat. Panorama alamnya memesona.

Akbar wahyudi

Bulukumba

Tiga desa menjadi wakil Sulsel pada iajang Anugrah Desa Wisata (ADWI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Desa Ara, Bulukumba, Desa Wisata Kole Sawangan, Toraja, dan Lembang Nonongan. Torut. Ketiga desa ini memiliki keunggulan di sektor wisata.

Salah satu pariwisata yang menjadi andalan Desa Ara adalah pantai Mandala Ria, pantai Pasir Putih, dan tempat para "Panrita Lopi" sebutan untuk para ahli pembuat kapal pinisi berasal.

Untuk menuju ke tempat tersebut kini sudah sangat mudah, akses jalanya pun sudah sangat baik. Dari kota Makassar, sekitar 160 Km.

Namun, lokasi yang jauh tak membuat pengunjung lelah, karena akan terbayar lunas dengan indahnya panorama laut pasir putih yang masih asri.

Desiran ombak bergantian menghantam pesisir, gemuruhnya berbunyi sesekali bergantian dengan dentuman palu panrita lopi yang sedang berjibaku dengan kerasnya kayu besi menjadi sebuah maha karya perahu pinisi.

Meski dirakit dan dirancang menggunakan peralatan tradisional, jangan ragukan kualitasnya,  karena pinisi kini telah diekspor ke banyak negara seperti Tiongkok, Malaysia, Jepang, Filipina, Swiss, dan Inggris.

Pinisi tradisional ini memiliki dua tiang layar utama dengan tujuh buah layar. Tiga layar dipasang di ujung depan, dua layar di bagian depan, dan dua layar lagi dipasang di bagian belakang perahu.

Layar-layar inilah yang digunakan sebagai pembantu alat gerak kapal ketika berlayar.

Ketujuh layar ini memiliki makna atau simbol jika nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera di dunia.

Keahlianya pada panrita lopi tersebut tidak pernah dia pelajari dari bangku sekolah ataupun kuliah, melainkan ilmu turun temurun yang diwarisi dari generasi sebelumnya.

Keahlian mereka bukan sekadar isapan jempol belaka, pasalnya bahkan dunia telah mengakui kehebatan para panrita merakit kapal yang mampu berlayar dan mengarungi samudra hingga berlabuh di Madagascar, Australia di tahun 1986. Itu telah ditetapkan menjadi warisan dunia tak benda oleh UNESCO.

Baso salah satunya, lelaki yang kini tak muda lagi itu, dengan telaten menempel serutan kayu yang yang dicampur dengan kapas berbentuk panjang untuk mencegah masuknya air dari sela-sela papan lambung kapal.

Keahliannya dan warga Ara lainnya turun-temurun didapat dari pendahulu mereka. Mereka percaya, itu bermula saat kapal Sawerigading yang mengejar cinta We Cudai ke negeri Tiongkok terpecah tiga di perairan Bulukumba, yaitu Desa Ara, Tana Beru, dan Lemo-Lemo.

Ketiga penduduk masyarakat tersebut membantu Sawerigading merakit kembali kapal yang lebih kuat menahan terjangan ombak dan samudera. Itulah mengapa Desa Ara dikenal sebagai pembuat Pinisi yang ahli.

Kapal Pinisi menggunakan kayu jenis Bitti, kayu yang hanya ada di Bulukumba, memiliki tekstur lebih lunak dan lebih ringan namun kuat dibandingkan kayu lain.

Namun, kayu Bitti tak lagi menjadi kayu untuk memproduksi kapal yang telah terkenal hingga dunia. Jenis Bitti telah lama habis, tergantikan dengan kayu besi dari daerah Sulawesi Tenggara.

"Kayu bitti itu tumbuh sendiri. Bibitnya susah didapat, kalaupun ada diameternya baru sekitar 10," katanya.

Tantangan lain para pembuat perahu, virus korona semakin memperparah. Pesanan kapal pun tak lagi ramai seperti dahulu. Proyek tahun 2018 mangkrak hingga 2021 ini.

Beberapa panrita di rumahkan, hanya tersisa dua orang yang digaji harian. Padahal untuk membuat kapal siap berlayar dibutuhkan 10 hingga 12 orang. Namun, aktivitas pembuat perahu di Desa Ara tetap dapat ditemukan.

Kepala Desa Ara, Amiruddin mengatakan, tersisa Ara yang mewakili Bulukumba dalam lomba desa wisata membuat kaget. Namun, baginya, Desa Ara memiliki keunggulan.

Ada wisata tebing Apparalang, Pantai Pasir Putih Mandala Ria. Sekaligus merupakan tempat para ahli pembuat perahu Pinisi yang telah diakui oleh dunia.

Tak kalah penting lagi katanya, Mandala Ria memiliki sejarah, yakni menjadi tempat pembuatan perahu pendaratan pembebasan Irian Barat, yang saat itu dipimpin oleh Soeharto saat masih bertugas di militer."Di sinilah dibuat kapal pendaratan sebanyak 20 buah dengan waktu 20 hari," klaimnya. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan