Fahri Hamzah Sentil Parpol Oposisi Jangan Cuma Planga-plongo, Sindir PKS?

Senin, 30 Agustus 2021 11:03

Fahri Hamzah (ist)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyayangkan sikap partai politik oposisi di Senayan yang seolah bisu tak bersuara, kurang greget dan bertaring sebagai penyeimbang kekuasaan.

“Ayo parpol yang ngaku oposisi aktifkan semua anggota DPR RI kalian. Suruh mereka menggonggong lebih keras. Hingga suara rakyat yang tak terdengar menjadi nyaring terdengar. Jewerlah eksekutif di seluruh lini dan jangan bersekongkol dengan mereka. Diam kalian adalah sekongkol!” seru Fahri dikutip dari cuitannya di Twitter, Senin (30/8/2021).

Ia menegaskan, peran pengawasan dan oposisi tidak bisa diserahkan kepada masyarakat sipil atau pun partai baru. Rakyat pada dasarnya tidak bebas, terbukti sekarang. Tapi suara rakyat di DPR RI sangat berarti dan dahsyat. Inilah yang seharusnya difungsikan. Jangan malah sibuk pencitraan.

Partai apa yang sedang disentil Fahri Hamzah?

“Ini kritik saya kepada partai yang gak diundang ke istana kemarin. Mereka sibuk dengan branding “berada di luar istana dan kabinet” tapi gak paham bagaimana membangun pandangan alternatif dengan menggunakan kekebalan legislatif atau DPR RI. Mereka sama saja sebenarnya,” cetusnya.

Menurutnya, jika seorang anggota DPR lebih taat kepada kabinet apapun posisi partainya maka dia tidak paham makna kongresional.

“Tapi seorang anggota DPR yang partainya di luar kabinet tapi tetap mingkem lebih sulit dimengerti lagi. Apa guna inunitas dan kekebalan hukum?” sorotnya.

Jadi, kata dia, banyak partai yang tidak tahu cara oposisi dalam presidensial. Bicara “kami oposisi” tapi faktanya parlemen justru sepi dari orang cerewet.

Kalau DPR RI sepi artinya sesungguhnya oposisi sudah tidak ada. Hanya dengan mengembalikan daulat rakyat maka oposisi tegak.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora itu menyatakan, ketika media massa, media sosial sampai mural bisa dihentikan, harusnya hak bertanya anggota DPR tidak bisa dihentikan oleh siapapun.

“Satu mulut anggota DPR RI saja bisa bikin banyak berita apalagi satu fraksi atau partai. Masalahnya mereka juga bingung mau bicara apa?” imbuhnya.

Sekarang, ketika semua terasa dihapus dan ditakedown, maka semua nampak bisa dihentikan. Tapi parpol di DPR RI tidak sadar bahwa konstitusi menjamin adanya fungsi oposisi dan pengawasan. Bahwa ada yang tidak bisa dihentikan yaitu mulut anggota DPR RI yang dijaga imunitasnya.

Dijelaskan, istilah oposisi tidak dikenal dalam presidensialisme, termasuk dalam UUD 1945. Sebenarnya oposisi adalah istilah parlementer. Tapi fungsi oposisi kita sebenarnya ada di legislatif tersebut. Maka, merdekakan mereka dari kungkungan daulat parpol dan kembalikan daulat rakyat

Banyak kesalahan memahami oposisi dalam tradisi presidensial. oposisi presidensial bermuara pada oposisi kongresional atau lembaga perwakilan.

“Jadi gak usah teriak oposisi, cukup buktikan suara anda merdeka. Sementara DPR RI kita kebanyakan satu suara tanpa perbedaan yang nyata. #OposisiPlangaPlongo,” pungkasnya.

Diketahui, setelah Partai Amanat Nasional (PAN) merapat ke parpol koalisi pendukung Presiden Jokowi-Wapres Ma’ruf Amin, kini tersisa dua partai politik di Senayan yang beroposisi yakni PKS dan Partai Demokrat. (dra/fajar)

Bagikan berita ini:
9
10
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar