Menengok Sentra Jambu Monyet Desa Taweang Pangkep

  • Bagikan

Meski Permintaan Menurun, Semangat Tak Pernah Padam

Matahari sebentar lagi terbenam. Sejumlah wanita masih asyik memecahkan cangkang mete di Desa Taraweang, Kecamatan Labakkang.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

Sejak dahulu, jambu monyet atau jambu mete tumbuh subur di Desa Taraweang. Saking banyaknya, kaum hawa pun turun tangan untuk memecahkan cangkang atau kulit biji mete yang cukup keras itu.

Biji mete menjadi salah satu komoditas unggulan. Di antara jenis kacang-kacangan, mete memang dibanderol mahal per kilogramnya.

Kulit biji mete keras dan bergetah. Mengupasnya tidak mudah. Butuh bantuan alat khusus, meski tetap saja mengeluarkan tenaga manusia.

Pemecah biji mete memang didominasi kaum hawa. Jangan ditanya bagaimana tangan perempuan-perempuan itu selama memecahkan cangkang mete.

Tangan sering menghitam karena getah dari cangkang mete. Biasanya, sarung tangan atau kantong dipakai untuk mengurangi getah yang menempel.

Kebanyakan mereka memecahkan cangkang biji mete di rumah. Mengenakan daster favorit. Bisa seharian menghabiskan waktu untuk mendapatkan beberapa kilo biji mete bersih.

Semangat para ibu menjadi pemecah cangkang mete tidak pernah pudar. Sayangnya, produksi kacang mete tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Saat pandemi melanda dunia, pesanan kacang mete menurun drastis. Itu artinya, penghasilan sebagai pemecah cangkang ikut berkurang.

Warga Kampung Baru, Wahyuni, mengaku sudah melakoni usaha biji jambu mete kupas sejak puluhan tahun lalu. Tidak heran, ada puluhan karung kacang mete siap dipasarkan berada di rumahnya.

  • Bagikan