Timur Darurat

  • Bagikan

Oleh : Dahlan Iskan

PERNAH ada anak bangsa menemukan teknologi pengolahan nikel dengan kimia. Seingat saya: seorang doktor dari ITS Surabaya. Tanpa dibakar seperti yang dilakukan sampai hari ini. Juga tanpa dipanasi sampai 700 derajat Celsius seperti yang ditemukan Widodo Sucipto (Baca Disway: Timur Musk dan Timur Terang).

PT Antam hampir saja mencoba cara baru itu. Agar terhindar dari mahalnya investasi membuat smelter. Akhirnya tidak berani. Takut jadi temuan BPK, Kejaksaan, dan KPK.

Itulah yang membuat saya berkesimpulan: penemuan teknologi anak bangsa tidak mungkin bisa berkembang!

Kesimpulan saya yang lain: sistem tender dan pengadaan harus diubah. Agar bisa mengakomodasikan penemuan teknologi dalam negeri.

Kesimpulan saya berikutnya: pengadaan teknologi anak bangsa harus melalui anggaran riset. Di pemerintahan maupun di BUMN. Berarti harus ada mata anggaran riset di setiap BUMN. Bukan saja untuk melakukan riset sendiri tapi, terutama, untuk membeli teknologi hasil riset anak bangsa.

Mengapa begitu?

Setiap pengadaan harus lewat tender. Bagus. Tapi setiap tender disertai syarat-syarat yang ”anti” penemuan dalam negeri. Salah satu syarat itu, misalnya: barang tersebut harus sudah begini dan begitu. Termasuk ”sudah pernah digunakan selama 3 tahun di sekian negara”.

Bagaimana penemuan anak bangsa bisa berkembang dengan sistem pengadaan seperti itu?

PT Antam akhirnya takut membeli teknologi baru tersebut. Takut disalah-salahkan. Apalagi kalau hasilnya kurang baik. Bisa dianggap melanggar aturan tender.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan