Timur Darurat

  • Bagikan

Saya tidak bisa berbuat lebih lagi. Expired date saya pun habis.

Itulah sebabnya saya memuji habis Widodo Sucipto dan Richard Tandiono. PT Nipress, yang menemukan teknologi STAL untuk pengolahan nikel telah berhasil menerobos semua itu.

Swasta memang tidak terikat dengan aturan seperti itu. Tapi mana ada swasta di dalam negeri yang mau melakukan riset seserius Nipress? Dengan komitmen yang begitu kuat? Dengan alokasi dana dan kesabaran sebesar itu?

Memang ada faktor Nipress telanjur masuk ke dunia lithium. Delapan tahun lalu. Telanjur investasi (baca Disway: Timur Musk). Richard sebagai dirut Nipress Energi Otomotif tidak mau investasinya jadi kuburan uang.

Maka keputusan Richard untuk menugaskan Widodo melakukan penelitian nikel sangatlah mendasar.

Widodo sudah lama jadi anak buahnya. Richard tahu kemampuan dan kesungguhan Widodo. Ayah mereka sama-sama orang Jawa Timur.

Widodo itu bukan saja lahir di Porong, sekolah SD pun di SD Negeri 2 desa itu. Karena itu teman-teman Widodo kebanyakan pribumi desa. Hanya ada 3 murid Tionghoa di antara 50 murid satu kelasnya. SMP-nya pun di SMP Negeri Porong filial Sidoarjo. Juga hanya ada 3 siswa yang Tionghoa.

Ketika mau masuk SMA, ayah Widodo ingin anaknya masuk SMA yang diasramakan. Yang disiplinnya keras. Yang mutunya baik. Yang ajaran budi pekertinya bagus. Cinta Tuhan. Cinta sesama manusia. Cinta negara.

“Saya dimasukkan SMA Santo Yusup Malang,” ujar Widodo. “Itulah SMA favorit untuk golongan Tionghoa-peranakan saat itu,” ujar Widodo.

Di zaman ketika lembaga pendidikan Tionghoa masih diizinkan, sekolah itu bernama Hwa Ind. Itulah sekolah Katolik yang didirikan masyarakat Tionghoa peranakan di Malang tahun 1951. Karena itu pasturnya pun Tionghoa: Joseph Wang.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan