Skenario Berdampingan dengan Covid-19, Satgas Sulsel: Sudah Mengarah ke Sana

Jumat, 10 September 2021 23:10

Ilustrasi virus corona

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Wacana perubahan status Covid-19 di Indonesia dari pandemi ke endemi kembali menguat belakangan ini. Menyusul kasus yang terus melandai.

Kampanye mengubah Covid-19 menjadi endemi pertama kali diungkap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sebuah webinar bersama RS Premier Bintaro pada Maret 2021 lalu.

“Belajar dari pandemi black death di Eropa yang membunuh hampir ratusan juta orang, Covid-19 ini bisa hilang secara bertahap enggak pernah cepat. Berubah menjadi epidemi dan pelan-pelan menjadi endemi di sebuah negara,” kata Budi kala itu.

Koordinator Posko Satgas Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Arman Bausat mengungkapkan tanda tanda perubahan status Covid-19 sudah mulai terlihat. Salah satunya pemulasaraan jenazah yang sebelumnya dilakukan satgas kini diserahkan ke rumah sakit.

“Dulu kan semua jenazah yang meninggal karena Covid di semua RS kan satgas yang antar, mulai dari jemput dipakaikan kantong jenazah, disiapkan kantong jenazah disiapkan peti jenazah, antar ke pemakaman dimakamkan itu semua kemarin satgas, kapan kita berhenti bisa-bisa habis kita punya anu,” katanya, Jumat (10/9/2021).

Dirut RSKD Dadi itu mengungkapkan, Covid-19 yang susah dihilangkan seutuhnya menjadi alasan statusnya diubah ke endemi. Sehingga ke depan, masyarakat bisa berdampingan dengan virus ini. Sama halnya seperti flu.

“Sudah banyak ramalan Covid ini tidak bisa hilang, manakala tidak bisa hilang berarti sudah jadi endemi. Akan selamanya mungkin ada, walaupun nanti diharapkan herd imunity kekebalan masyarakat kalau misalnya suatu saat menyerang yah tinggal gejala ringan flu biasa, semua sudah diantisipasi itu,” bebernya.

Apalagi virus Covid-19 terus bermutasi dengan berbagai varian. Jika sebelumnya ada varian Delta, kini muncul jenis Covid baru yakni varian Mu.

“Kalau menurut saya sih dianggap ini susah hilang, kita tidak bisa meramal apakah dia akan melandai terus atau ada lagi serangan. Awalnya berhenti kita pikir berhenti eh naik, karena virus ini kan ada kemampuan mutasinya dia bisa mengadaptasi diri dengan kondisi itu, saya kira ini memang karena susah hilang ini virus. Makanya dianggap endemi,” tuturnya.

Jika ke depan Covid-19 sudah berubah ke arah endemi, maka sosialisasi perlu dimasifkan ke masyarakat. Termasuk jika ada yang terkonfirmasi positif.

“Kita juga nanti mulaimi mengatur bahwasanya kita antisipasi karena ada terus jadi janganmi terlalu, tapi yah bagaimana kita ke depan, bagaimana mengubah persepsi masyarakat bahwasanya kalau kena Covid janganmi ketakutan. Kita mulai sosialisasi. Mungkin nanti ke depan ada Covid yang meninggal mungkin kita pulangkan ke rumahnya dulu sebelum dimakamkan dengan catatan peti jenazah jangan dibuka, kita mengarah bertahap,” jelasnya.

Meski demikian, hingga kini, pelayanan masih menerapkan protokol penanganan secara pandemi. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan.

“Masih belum, masih ikuti protokol, belum ada petunjuk, otomatis karena belum ada petunjuk dari kementerian kesehatan, kita masih ikuti protokol. Kan pelayanan ada standar penanganannya, tidak bisa kita mengubah duluan, tapi kalau untuk tindakan di hulu, kebijakan di luar. Tindakan kebijakan masih bisa diubah, kalau standar penanganan yang sudah masuk RS tidak boleh kita ubah,” pungkasnya. (ikbal/fajar)

Bagikan berita ini:
3
6
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar